Kalau Bintang Mulai Bersinar
Oleh: Diyana
Dari atas sebuah bukit buatan yang menghijau, Dia dan si Dia duduk di atas bongkahan batu arang yang berasal dari bekuan magma gunung berapi. Punggung Dia dan si Dia saling menahan. Hanya terdiam memandang lembah yang terhampar di depan mereka. Hijau, bak zamrud. Tetes air hujan di setiap permukaan daun yang terkena sinar mentari membuatnya semakin berkilauan. Angin bertiup dingin dan lembab.
"Musim hujan memang menyenangkan."
"Membuat segalanya menjadi hijau berkilauan."
"Kau suka?"
"Aku suka."
Angin semakin kuat berhembus membawa awan-awan hitam yang pekat menyelimuti birunya langit dan menghalangi hangatnya mentari. Hujan akan datang. Dia dan si Dia sangat menyukainya. Tersenyum dan memejamkan mata. Menikmati dinginya angin, lembabnya udara, gelapnya suasanya dan sendunya hati.
"Kau ingat sesuatu?"
"Apa?"
"Tuhan punya kegemaran di musim hujan."
"Ya, aku ingat."
"Kita akan menunggu bukan?"
"Kita akan menunggu. Jangan sampai terlewat."
"Aku bersamamu. Dan.. kau?"
"Iya, aku bersamamu."
Jika engkau dan kekasih menengadahkan wajah ke arah langit yang mendung dan berawan, menunggu sambaran guntur, pada saat ion positif dan negatif bertemu, pada saat kilatan cahanya menerpa wajahmu, pada saat itulah Tuhan mengambil fotomu, dan menyimpannya pada bintang-bintang di langit sebagai albumnya.
Saat musim berganti, saat bintang-bintang mulai bertaburan di langit, saat sinarnya mulai menghiasi angkasa, saat itulah Tuhan melihat albumnya. Salah satu bintang-bintang itu berisi gambar engkau dan dia yang kau sayangi.
Walaupun tak bersama di dunia, kau masih bersamanya di bintang-bintang itu, selama alam semesta ada, selama bintang-bintang itu bersinar, selama bintang-bintang itu beredar, selama cinta kalian secerah sinar bintang-bintang itu.
Dia dan si Dia menunggu dan menunggu, sampai saat sebuah kilatan menyambar. Dia tersenyum dan bangkit dari duduknya.
"Aku akan mencari bintangku saat musim berganti."
"Aku akan menemukanya."
Dia berjalan meninggalkan si Dia yang masih duduk di atas batu arang. Jauh dan semakin jauh. Hujan turun dengan derasnya, membasahi tanah yang basah. Si Dia menengadahkan wajahnya ke langit, butiran-butiran hujan itu menghujani wajahnya, seperti tusukan duri.
"Aku juga suka hujan. Karena dalam hujan, tidak akan ada seorang pun yang tahu aku menangis."
Si Dia menangis dalam hujan.
Untuk semua yang pernah merasakan sakitnya perpisahan.
Posted on November 6, 2007 3:00 AM | Permalink

Komentar (1)
Dian...
What a nice story...
I love it
@ November 29, 2007 15:16