Laskar Pelangi: Kisah Anak Bangsa
Ini adalah buku pertama dari Tetralogi Laskar Pelangi. Buku yang gaungnya saya dengar jauh hari sebelum saya memiliki bukunya. Acara peluncuran bukunya pun (saya dengar) sukses. Membuat saya sangat penasaran untuk membacanya.
Tampilan luar buku ini membuat saya berdecak kagum. Bagaimana tidak, deretan komentar dari banyak orang dan institusi, memberikan saya persepsi awal bahwa buku ini layak dibaca. Belum lagi proses cetak hingga 10 kali yang membuat buku ini (seyogyanya) layak dan patut dibaca.
Saya tidak akan membahas buku ini melalui bab-babnya, tapi lebih ke arah muatan yang dibawa dalam buku ini.
Dengan plot maju mundur yang diusungnya, buku ini sedikit banyak telah berhasil mengurangi ketidaksukaan saya terhadap alur tersebut. Andre Hirata, menyajikan alur tersebut nyaris tanpa batas, sehingga perpindahannya pun terkesan sangat smooth (maaf, saya tidak berhasil menemukan padanan kata yang sesuai dalam kalimat ini). Batas antara masa kini, masa lalu, dan masa depan disajikan dengan rangkaian kalimat yang membentuk sinergi sederhana. Simak rangkaian kalimat ini: "karena nanti ia -seorang anak miskin pesisir- akan menerangi nebula yang melingkupi sekolah miskin ini sebab ia akan berkembang menjadi manusia paling genius yang pernah kujumpai seumur hidupku." Indah bukan?
Yang kuat dari buku ini juga, penggambaran Andre (saya tidak tahu apakah penulis berkenan saya panggil demikian) terhadap setting. Gambaran daerah miskin, terpencil, yang jauh dari gambaran orang tentang tempat tinggal yang patut ditinggali. Kemiskinan merupakan gambaran yang begitu melekat di setiap keluarga. Kesulitan yang secara turun menurun telah menjadi warisan yang terus terjaga.
Saya juga menangkap pewatakan yang begitu mengena terhadap para tokohnya. Andre menggambarkan K. A. Harfan Effendy Noor dengan sangat detail, sehingga saya berhasil mendapatkan sosok yang tertulis dalam kehidupan nyata. Ataupun tokoh lainnya, Ibu N.A Muslimah Hafsari. Penokohan tidak hanya pada karakterisitik fisik, tetapi juga sifat. Dari kedua sosok ini saya belajar untuk memaknai sebuah konsistensi, totalitas dan berbuat tanpa pamrih lebih dalam lagi.
Saya sempat mengernyitkan dahi demi melihat penggambaran terhadap kondisi pendidikan kita. Saya sering menyaksikan gedung sekolah yang rusak, tetapi tidak pernah mendapatkan yang sedemikian parah. Saya cuma berpikir, apakah kondisi ini memang tidak diketahui oleh pemerintah pusat atau daerah?
Saya tidak mau terlarut dalam sumpah serapah terhadap kondisi (yang menurut saya) tidak sesuai dengan yang seharusnya terjadi. Saya lebih suka untuk memaknai perjuangan para orang tua, guru, dan anak-anak Belitung itu dalam usahanya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan. Saya tidak habis pikir bagaimana dengan kondisi perekonomian yang sedemikian sulit, mereka masih berusaha untuk mengenyam pendidikan, yang masih menjadi barang mahal. Saya berdecak kagum. Terlintas di benak saya suasana belajar mengajar sekolah-sekolah di ibukota. Berlarian anak-anak sekolah dasar berlarian membawa telepon genggam, dengan tas impor bernilai dolar.
Laskar Pelangi
Penulis: Andre Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta.
Hal: 534 dan xiv
*** (mamat)

Komentar (1)
novel ini memmbuat saya ngirissss!uhhh,so sweeet!
@ October 7, 2008 16:34