Membimbing Orang Tua
Oleh. DH. Devita
Saya seringkali menjumpai teman-teman yang menjadikan orang tua mereka sebagai idola. Kalau tidak ayahnya, ibunya, atau bahkan keduanya. Atau bila tidak disebutkan sebagai idola, mereka pasti dengan lancarnya menceritakan betapa ayah atau ibu mereka berperan sangat besar dalam mendidik mereka sejak kecil. Sehingga ketika dewasa, mereka tumbuh menjadi orang-orang yang berhasil, berkepribadian baik, dan lain sebagainya. Memang, jasa kedua orang tua tidak pernah bisa dilupakan, dan bahkan pengorbanan mereka sungguh tidak bisa dibandingkan dengan siapapun atau apapun di dunia ini. Tidaklah heran jika banyak di antara kita yang mengidolakan kedua orang tua sendiri, atau menjadikan mereka sebagai panutan bagi kehidupan kita sekarang.
Namun akhirnya saya berpikir, bagaimana dengan mereka yang tidak seberuntung teman-teman saya di atas? Yang memiliki orang tua yang mungkin kurang bisa dijadikan teladan dalam kehidupan. Karena berbagai hal, misalnya pola asuh yang kurang baik yang diterapkan, berbagai kekerasan rumah tangga yang dilakukan, atau hubungan yang tidak harmonis. Tentu tak sedikit pula yang mengalami nasib seperti ini.
Pastinya tidak akan heran, bila mendapati seorang anak yang baik dan lurus jalan hidupnya, hasil asuhan kedua orang tua yang memberikan teladan terbaik bagi anak-anaknya. Ibarat pepatah, air cucuran jatuhnya ke pelimbahan juga. Biasanya orang tua yang baik akan mendidik anaknya dengan cara yang baik pula. Sehingga anak-anak mereka tumbuh menjadi anak-anak yang berkepribadian baik. Tetapi, kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang dikehendaki setiap manusia. Selain upaya yang dikerahkan oleh manusia, takdir dan ketentuan Tuhan pun turut menentukan. Maka jangan heran bila menemui kasus yang beraneka ragam pasal orang tua dan anak ini.
Saya sering melihat banyak anak-anak yang baik dan sukses didalam hidupnya, yang kebetulan memiliki orang tua atau keluarga yang katakanlah berantakan. Hubungan kedua orang tua yang tak harmonis, tidak adanya dukungan dari keluarga, dan sebagainya. Atau sebaliknya, kita mengenal ayah dan ibu mereka sebagai orang-orang yang taat beragama, namun ada saja yang dilakukan oleh anak mereka yang membuat mereka pusing dan bersedih. Apakah lantas kita bisa memuji atau menyalahkan kedua orang tua mereka? Sebab, bisa jadi kedua orang tua yang baik tidak memiliki pengetahuan yang cukup soal mendidik anak-anak. Atau anak-anak itu sendiri yang mencari jalan untuk mendekatkan diri pada agama, walaupun kedua orang tua mereka tak mengajarkan.
Banyak sekali faktor yang bisa memengaruhi tumbuh kembang si anak, terlepas dari seperti apa 'bibit'nya. Walaupun sebenarnya, titik awal persentuhan si anak dengan kebaikan atau keburukan adalah di mulai dari kedua orang tua mereka sendiri. Ibarat menggambar di kertas putih, kedua orang tua mereka adalah yang berperan menjadi pena atau pensil warnanya. Dan setelah dewasa, si anak itulah yang akan menentukan dan memantapkan diri, akan berjalan ke arah kiri ataukah kanan.
Saya yakin, semua yang saya tuangkan di tulisan ini tidaklah asing di telinga kita masing-masing. Masalahnya adalah, kadangkala menjadi anak-anak yang terlahir dalam lingkungan keluarga yang tidak kondusif dapat menimbulkan berbagai perasaan negatif yang akhirnya bisa menjadi hambatan bagi si anak untuk tumbuh dan berkembang secara normal.
Saya hanya ingin mengatakan, apabila kita terlahir seperti yang saya tuliskan di atas, janganlah bersedih atau bermuram diri. Sebab jika kini kita telah tumbuh menjadi anak-anak yang baik itu, maka kesempatan bagi kita untuk membalas segala pengorbanan yang telah orang tua kita lakukan, dengan banyak-banyak mendoakan mereka. Mencoba membimbing mereka untuk memperbaiki kesalahan yang mungkin terjadi hingga sekarang dalam hubungan keluarga. Menguatkan diri untuk menjadi contoh yang baik bagi mereka sendiri, bagi saudara-saudara kandung kita, bagi keluarga besar kita, bagi orang-orang di sekeliling kita. Tidak ada kata terlambat untuk belajar dan saling memaafkan. Bukankah kebenaran bisa datang kapan saja dan dari mana saja?
Tak lupa untuk selalu memotivasi diri, agar kita selalu termasuk dalam golongan anak-anak yang berbudi pekerti baik, yang dapat menuntun orang tua dan juga diri kita sendiri kejalan yang baik dan lurus. Mungkin ini adalah kesempatan bagi kita untuk saling mengingatkan dan menguatkan. Di mana, di zaman sekarang ini, orang tua lebih merasa paling pintar dan harus dihormati oleh anak-anak muda. Namun sebagai pemuda-pemudi yang baik, selayaknyalah kita saling membimbing ke arah kebaikan. Baik itu kepada teman sebaya ataupun kepada orang tua.
