Film di Tahun 2007
Tahun 2007 perfilman Indonesia masih menunjukkan pertambahan dalam jumlah produksi. Dengan genre yang masih mengandalkan tema mistis dan cinta, maka puluhan filmpun dibuat. Fenomena maraknya produksi film ini sepertinya merupakan kelanjutan dari tahun-tahun sebelumnya, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai era kebangkitan film Indonesia.
Barometer film di Indonesia, sekali lagi, masih mengandalkan Festival Film Indonesia (FFI), yang pada tahun 2007 ini dilaksanakan di Riau. Perhelatan akbar ini tampaknya masih menghadapi ujian. Pengunduran diri dari para nominator, demonstrasi menentang penyelenggaraan yang konon menyerap dana hampir Rp 7.2 milyar (diambil dari dana APBD), bahkan sampai penolakan untuk hadir di acara ini adalah beberapa onak dan duri, yang mau tidak mau memang terjadi. Kita masih ingat bukan dengan awal dari konflik ini?
Terlepas dari pertentangan-pertentangan yang terjadi, FFI 2007 tetap digelar. Insan film dan pejabat pemerintahan, serta masyarakatpun turut menyaksikan acara yang disiarkan langsung oleh stasiun tivi swasta.
FILM TERBAIK
Untuk kategori film cerita terbaik, seperti telah diprediksikan sebelumnya, Naga Bonar Jadi 2 berhasil membesut penghargaan ini. Film sekuel (yang tidak direncanakan) dari film Naga Bonar di tahun 1980-an, yang juga dibintangi oleh Deddy Mizwar ini, mengusung tema unik, semangat kebangsaan di tengah globalisasi zaman. Sebuah semangat untuk tetap cinta tanah air, dengan segala konsekuensinya. Sebuah sikap positif yang sudah mulai luntur di makan zaman. Maka tak heran bila film ini berhasil menyisihkan Get Married, Kamulah satu-satunya, Mengejar Mas-mas, dan Merah itu Cinta.
PEMERAN UTAMA TERBAIK
Tahun 2007, sepertinya menjadi tahunnya Deddy Mizwar. Di FFI 2007, film Naga Bonar Jadi 2 berhasil menyabet 5 penghargaan, termasuk pemeran utama pria terbaik, yaitu Deddy Mizwar. Uniknya, Tora Sudiro-pun dinominasikan untuk kategori dan film yang sama. Dan sepertinya 'senioritas' memang masih berlaku. Dengan 'kesempurnaan' karakter yang dibangun, image yang dirintis, sosok Naga Bonar memang sangat pas dan 'hidup' diperankan oleh Deddy.
Untuk pemeran utama wanita, Dinna Olivia akhirnya diganjar penghargaan sebagai yang terbaik. Akting dari aktris yang memang sering muncul dalam layar kaca dan perak ini sangat menjanjikan. Hal ini terlihat jelas pada film yang dibintanginya, Mengejar Mas-mas. Harus bersaing dengan Nirina Zubir (Kamulah Satu-satunya), peraih piala citra tahun 2006, akhirnya akting Dinna dianggap lebih berhasil memerankan karakter yang dimainkannya.
PEMERAN PENDAMPING TERBAIK
Meriam Bellina, aktris senior papan atas yang belakangan ini seringkali kita lihat dalam layar kaca, berhasil menyabet Piala Citra 2007 untuk aktris pendukung terbaik dalam film Get Married. Pemain watak yang satu ini memang berhasil menjiwai perannya dengan sangat baik. Dia bisa menjadi apapun yang diinginkan oleh skenario cerita.
Untuk peran pendamping pria terbaik, Lukman Sardi memang tinggal menunggu waktu untuk mendapatkan penghargaan. Untuk film Naga Bonar Jadi 2, Lukman berhasil menyisihkan actor senior Adi Kurdi (Anak-anak Borobudur). Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa. Sama seperti Meriam Bellina, Lukman Sardi memiliki penjiwaan yang luar biasa untuk peran yang dimainkannya.
SUTRADARA TERBAIK
Walaupun menolak untuk hadir, Hanung Bramantyo berhasil menyabet penghargaan sebagai sutradara terbaik, menyisihkan Deddy Mizwar (Naga Bonar Jadi 2), Rako Prijanto (Merah itu Cinta), dan Rudy Sudjarwo (Mengejar Mas-mas), dan juga menyisihkan hasil karya sendiri dalam Kamulah Satu-satunya. Oleh salah satu majalah gaya hidup, Hanung juga diganjar sebagai Director of the year 2007.
KATEGORI LAINNYA
Berikut adalah nominator untuk kategori lainnya, yang bercetak tebal adalah pemenangnya.
Nominasi Skenario Cerita:
1. Arswendo Atmowiloto (Anak-Anak Borobudur)
2. Monty Tiwa (Mengejar Mas-Mas)
3. Mustar Yasin (Naga Bonar Jadi 2)
4. Mustar Yasin (Get Married)
5. Raditya Key Mangunsong (Kamulah Satu-Satunya)
Nominasi Tata Sinematografi:
1. Faozan Rizal (Get Married)
2. Ipung Rahmat Syaiful (Kala)
3. Regina Anindita (Sang Dewi)
4. Sidi Saleh (Merah itu Cinta)
5. Yudi Datau (Naga Bonar Jadi 2)
Nominator Tata Artistik:
1. Allan Sebastian (Get Married)
2. Allan Sebastian (Kamulah Satu-Satunya)
3. Rico Marpaung (Merah itu Cinta)
4. Samuel Waltimena (Naga Bonar Jadi 2)
5. Wencisiaus (Kala)
Nominator Editing:
1. Cesa David Luckmansyah (Get Married)
2. Monty Tiwa/Cindy RA Biere (Mengejar Mas-Mas)
3. Santha Sunu (Naga Bonar Jadi 2)
4. Wawan I Wibowo (Kala)
Nominasi Tata Suara:
1. Aditya Susanto/Adimolana Machmud (Get Married)
2. Aditya Susanto/Adimolana Machmud (Naga Bonar Jadi 2)
3. Aman AR Ranin/Monty Tiwa (Mengejar Mas-Mas)
4. Khikmawan Santoso (Kala)
5. Satrio Budiono/Yusuf A Patawan (Merah itu Cinta)
Nominasi Tata Musik:
1. Addi MS (Cinta Pertama)
2. Andi Rianto (Mengejar Mas-Mas)
3. Bobby Surjadi (Badai Pasti Berlalu)
4. Bongki BIP (Kamulah Satu-Satunya)
5. Dian HP (Love is Cinta)
Nominasi Film Dokumenter:
1. Bisnis Narkoba di Penjara (Darussalam/Alam Burhanan)
2. Cinta-Citaku, Aku Ingin Jadi Tentara (Gatut Mukti/Delviyantiri)
3. Di Atas Rel Mati (Nur Fitriah/Weldy Handoko)
4. Gemala Meragi/Nusantara (Dharmala Maulana)
5. Sang Budha Bersemayam di Borobudur (Marseli Sumarno)
Nominasi Film Pendek:
1. Bahan Bakar Tinja (Hidayat Priyo N)
2. Belenggu (Donald TK)
3. Karena Aku Sayang Markus (Magra C Noor)
4. Merah Putih Jam 7 Lewat 10 (Chris Oscaro)
5. Sayap Untuk Laras 2005 (Garga Keonardo)
Nominasi Berbahasa Indonesia yang Baik:
1. Hantu Rumah Kosong (PT Kharisma Starvision)
2. Kala (PT MD Picture)
3. Lari dari Blora (Cahaya Kristal Media Utama)
4. Love is Cinta (PT Kharisma Starvision)
Penghargaan Khusus Dewan Juri:
a. Animasi Terbaik, Bahan Bakar Tinja (Nyamokanimation.com)
b. Sutradara Pilihan Juri, Deddy Mizwar (Naga Bonar Jadi 2)
PEKERJAAN RUMAH 2008
Penyelanggara FFI agaknya harus terus berbenah untuk penyelenggaraan selanjutnya. Isu utama yang harus diselesaikan adalah masalah konflik dengan komunitas yang menyebut diri sebagai Masyarakat Film Indonesia. Sebuah perbedaan sudut pandang yang semoga tidak semakin meruncing, yang pada akhirnya justru dapat menjadi bumerang, dan menghambat 'pertumbuhan' film Indonesia di tahun-tahun mendatang.
*** (Mamat)
