Mencari Sehat ke Negeri Seberang
Cerita tentang Bapak S
Bapak S berusia 57 tahun, dibawa ke UGD karena kelumpuhan lengan dan tungkai kanan dan tidak bisa bicara. Pemeriksaan CT scan kepala memperlihatkan adanya perdarahan di otak sebelah kiri. Bapak S terkena stroke perdarahan. Dokter yang merawat memberi penjelasan kepada keluarga bapak S. Hari berikutnya istri Bapak S, bertemu dokter ditemani seorang ibu yang mengaku sebagai kerabat.
Sang kerabat bertanya, "Apakah boleh kami membawa bapak S ke Singapura?"
Dokter menjawab, "Boleh saja, Bu. Kondisi bapak cukup aman untuk dievakuasi."
Sang istri bertanya juga, "Bila tidak bisa, apakah bisa kami mendatangkan dokter dari Singapura untuk merawat bapak?"
Kata-kata isti bapak S membuat dokter terhenyak, tidak bisa berkata-kata untuk sesaat. Setelah beberapa detik diam, dokter berkata, "Mungkin secara prosedur akan lebih mudah bila bapak S yang dirujuk, tapi tidak bisa dengan pesawat biasa."
Sang kerabat menjawab, "Dengan air ambulance, Dok. Bagi keluarga bapak S uang bukan masalah."
Bapak S memiliki sekian banyak pilihan untuk mencari sehat. Hari berikutnya semua petugas medis di bangsal stroke baru tahu bahwa 'sang kerabat' adalah makelar/ agen kelompok medis Singapura. Bapak S diterbangkan dengan ambulans udara ke Singapura, dan semoga Bapak S mendapatkan apa yang keluarganya inginkan.
Memahami keinginan pasien
Bapak S adalah satu dari sekian banyak orang Indonesia yang lebih memilih berobat ke negeri seberang. Data dari badan pariwisata Singapura memperlihatkan bahwa tidak kurang dari 200.000 orang dari berbagai Negara berkunjung ke Singapura untuk mendapat pelayanan medis, proporsi terbesar berasal dari Indonesia.
Mengapa pasien dari Indonesia pergi jauh-jauh ke Singapura? Coba simak kata-kata Ibu Sylvia dari Indonesia: "Saya percaya dengan dokter Singapura. Mereka efisien, sistematik, dan memberikan pelayanan yang baik."
Memahami keinginan dan kebutuhan pasien akan membantu para pemberi pelayanan kesehatan untuk memberikan pelayanan yang lebih adekuat. Pada beberapa keadaan seringkali dijumpai adanya kesenjangan antara keinginan pasien dan pelayanan kesehatan yang diterimanya. Kesenjangan ini dapat berujung menjadi ketidakpuasan.
Ketidakpuasan berhubungan langsung dengan tidak terpenuhinya keinginan pasien tersebut. Pasien menginginkan penjelasan yang jelas tentang penyakitnya, informasi dan instruksi yang jelas, dan pasien ingin dokternya melakukan pemeriksaan fisik yang teliti. Pasien akan lebih puas bila menjalani berbagai tes penunjang. Hal ini sesuai dengan keinginan pasien untuk menemukan jawaban penyebab sakitnya. Kondisi di Indonesia mungkin sedikit berbeda. Sebagian besar dokter harus memberi pelayanan pada lebih banyak pasien, waktu konsultasi menjadi kurang, dan menimbulkan ketidakpuasan bagi sebagian pasien.

Gambar 1. Pusat pelayanan pasien internasional di National University Hospital
Di negara tetangga kita tersebut, pasien dari Indonesia harus masuk ke kelas I perawatan. Pasien tidak boleh menginap di kelas 2 atau bahkan kelas 3. "Kelas 2 dan kelas 3 hanya bagi warganegara kami, dan negara memberikan subsidi yang sesuai," demikian kata-kata humas perwakilan kelompok pelayanan kesehatan di Singapura. Pada kondisi demikian, Indonesia dianggap sebagai pasar yang sangat potensial.
Hal ini tampak dari berbagai iklan yang muncul di surat kabar, berbagai pertemuan/ seminar ilmiah untuk awam. Pada kondisi demikian, pelayanan kesehatan benar-benar merupakan sebuah bisnis. Penulis pernah menjadi modertaor untuk sebuah seminar awam dari perwakilan pelayanan kesehatan Singapura. Pelayanan kesehatan dikemas dengan sangat menarik dan diiklankan dengan kata-kata: "Dokter kami lebih pintar, pelayanan kami lebih canggih, alat-alat lebih lengkap, dsb."
Media memiliki peran yang sangat besar untuk mendukung ekspansi bisnis medis dari berbagai negara tetangga (Singapura dan Malaysia). Berbagai perwakilan medis disebar di berbagai kota besar (Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Medan). Berbagai seminar diselenggarakan di hotel dan restoran untuk membidik kaum berpunya di Indonesia.
Menjawab Kritik dengan Memperbaiki Diri
Profesi kesehatan di Indonesia akan dihadapkan pada kenyataan bahwa ekspansi bisnis medis asing telah merambah masuk dengan cepat. Sama seperti sifat bisnis yang lain, maka nilai-nilai sosial pun akan cenderung ditinggalkan.
Pemahaman akan keinginan pasien merupakan hal yang sangat diperlukan. Komunikasi yang baik akan mampu mengeksplorasi keinginan seorang pasien dari pemberi pelayanan kesehatan. Pada tingkatan yang lebih tinggi, pemahaman akan keinginan pasien akan sangat membantu dalam penyusunan strategi pemasaran dan pengembangan organisasi pelayanan kesehatan.
Profesi medis di Indonesia seyogyanyalah memperbaiki diri. Gerakan globalisasi akan terus merambah. Nilai-nilai konsumerisme (termasuk dalam hal kesehatan) akan terus merambah. Hal ini berarti akan semakin banyak ekspansi medis di waktu mendatang. Bahkan tidak mustahil, bila di suatu waktu di masa datang akan berdiri sebuah 'RS Singapura' di Indonesia. Dokter dan perawatnya dari Singapura, dan pekerja dari Indonesia hanya akan berfungsi sebagai staf pendukung. Kepergian Bapak S dan ribuan pasien yang lain ke Singapura dan Malaysia seyogyanya menjadi kritik bagi profesi medis. Satu-satunya cara untuk menjawab kritik adalah memperbaiki diri.
Rizaldy Pinzon, dr, MKes, SpS
Dokter, bekerja dan tinggal di Yogyakarta
medidoc2002@yahoo.com
Pengelola Website Stroke Bethesda

Komentar (1)
Hallo Dr. Pinzon yth,
Perkenalkan nama saya Endang Basuki, saya Saya dosen di FKUI, Dept. I. Kedokteran Komunitas.
Saya setuju sekali bahwa para dokter di Indonesia harus segera mengubah sikap dan perilakunya terutama dalam memberikan layanan kesehatan yang bersifat non-medik. Saya dengan teman-teman di Jakarta sudah mulai dengan menyelenggarakan pelatihan komunikasi bagi provider kesehatan sejak 8 tahun terakhir, sedangkan secara pribadi sejak 1995, dengan Perkeni, Persadia, PEDI. Semoga anda dan teman-teman anda juga melakukan hal yang sama. Perlu diperbanyak pelatih-pelatih di tiap wilayah di Indonesia. Hanya 1 tujuan saya, agar pelayanan kedokteran dan kesehatan pada umumnya mendapat tempat di hati masyarakat, serta dihargai dan dihormati oleh bangsa lain! Salam. Endang Basuki.
@ August 11, 2008 12:39