Merayakan Makanan, Merayakan Keragaman
oleh Ndoro Kakung
Sepiring makanan punya jejak yang panjang. Ia bisa bercerita tentang sebuah ide, hasrat, upaya, budaya, ritual, dan seterusnya. Sepotong roti gambang, misalnya, adalah cerita tentang bagaimana budaya lokal bertahan dari gempuran produk luar. Betapa sebuah kesederhanaan menjadi eksotisme masa lalu.
Beruntunglah para food lover, pecinta makanan, juga gastronom. Orang-orang yang mengenal makanan sejak masih remah-remah hingga menjadi hidangan yang menggiurkan. Orang-orang yang dengan ajeg, tekun, dan penuh gelora mencatat, membahas, dan berbagi resep setiap olahan. Di media, di blog, di mana saja.
Terus terang saya iri pada mereka yang bisa mengulas segala hal, tetek bengek, soal makanan. Orang-orang yang dengan sepenuh hati memandu, mana makanan yang lezat dan maknyus. Karena, saya pun kadang masih sulit membedakan antara keripik kentang dan tortila, pasta dan pizza, ayam penyet dan ayam kluwek.
Berkat mereka, saya tak pernah risau. Karena para pecinta kuliner, para pemandu makanan itu, membuat selera kita tak pernah menjadi satu. Mereka menegaskan bahwa kesukaan kita, terutama dalam soal makan, tak bisa diseragamkan.
Merekalah yang mengingatkan bahwa burger, fried chicken, misalnya, toh cuma satu titik dari sebuah garis panjang kehidupan. Kita memang butuh makan, jajan. Tapi siapa yang bisa mengatur hari ini kita ingin makan apa dan besok makan siapa. Sampean bisa mengatur menu, tapi selera dan keinginan?
Sampean pasti tahu juga, kolonel tua berjanggut putih yang selalu tersenyum itu toh belum juga membunuh Mbok Berek. Ayam goreng Amerika yang menyebar itu, alhamdulillah, tak menjadi ayam goreng tunggal.
Coca-Cola memang mendesak pelbagai pabrik minuman lokal yang kecil, ketika ia baru tiba di sini; tapi kemudian muncul Teh Botol Sosro. Lalu, yang lain-lain. Cendol, wedang ronde, dawet Banjarnegara, dan sekoteng bahkan tetap tak tergantikan -- biarpun tak ada pidato khusus di RT-RT untuk membela mereka.
Apa yang terjadi, tentu saja, bukanlah "lokal" versus "asing", atau "modern" lawan "tradisional". Dalam gejala di atas, yang terjadi hanyalah bukti bahwa kita -- setidaknya dalam urusan biologis kita di perut -- tampaknya selalu menampik untuk diseragamkan. Betapapun mulianya Sumpah Pemuda, kita sampai hari ini toh belum sampai berikrar agar soto Madura, soto Kudus, soto Banjar, dan soto Bandung bersatu menjadi soto Indonesia.
Karena itulah kita umumnya senang datang ke warung-warung di pinggir jalan. Di sana kita bisa menyaksikan - atau mencicipi - sebuah taman mini gastronomi tersendiri. Mi kopyok Medan. Pempek Palembang. Soto Maaruf atau soto Pak Saidi. Bubur Manado.
Dengan kata lain, dari sudut ke sudut, di kedai-kedai yang selalu penuh itu, kita menyaksikan suatu pertahanan diri terhadap proses produksi dan pemasaran massal. Demassification, kata seorang penulis, yang namanya tentu saja Alvin Toffler.

Komentar (5)
wah, ndoro kakung merambah ke sini juga? hehehe ...
@ January 7, 2008 13:52
setuju! Indonesia ini kaya akan pusaka kuliner. jangan sampai pusaka kuliner kita diakuisisi negara tetangga, seperti yg menimpa Rendang..
Nasi Goreng denger-denger hendak diakuisisi, namun mereka cuma punya "sedikit" nasi goreng. Kita? Ndak bakal bisa ngitung pake jari..
Selamatkan pusaka kuliner Nusantara!
@ January 7, 2008 20:04
another expansion of Ndorokakung blogs hehehehe... mantab :D
@ January 7, 2008 22:47
Dongeng tentang Ndoro Kakung adalah dongeng tentang craftmanship, tentang kepiawaian menggoreng kalimat, tentang kejeniusan meracik kata dan diksi.
Tulisan diatas -- sekali lagi -- membuktikan itu : bagaimana sebuah tema yang asing baginya, tetap mampu direbus dengan gurih, renyah dan sekaligus menyegarkan.
Bagi saya, membaca tulisan Ndoro Wicak selalu merupakan "sebuah pengalaman kuliner kata" yang membius: rasanya sedap, nikmat dan pasti mak nyuss.
@ January 8, 2008 08:17
ndoro kakung kapan kita wisata kuliner ??
@ January 9, 2008 14:45