Artikel:

Yuk, Untai Cerita Berantai

Setahun yang lalu, Dewi Cendika ZR pernah memulai sebuah cerita berantai di galeri kreasi Blogfam. Cerita berantai ini memang terbilang unik. Pasalnya masing-masing penulis hanya boleh meneruskan cerita berantai ini dengan kata terakhir dari cerita penulis sebelumnya. Dan uniknya lagi, setiap cerita yang diposting oleh penulis hanya terdiri dari beberapa paragraf saja.

Dan setahun itu telah berlalu, menghasilkan 3 halaman cerita berantai dari banyak penulis. Selain Dewi Cendika, masih ada puluhan penulis lainnya yang ikut berpartisipasi meneruskan cerita berantai ini.

Dari 3 halaman itu, ternyata cerita ini belum selesai sampai di sini. Cerita berantai itu masih menunggu untuk dilanjutkan dan diselesaikan. Jika cerita berantai ini menjadi sebuah cerpen atau bahkan novel, mungkin lebih unik lagi. Karena terdapat puluhan penulis yang ikut serta menulis di cerita berantai ini. Jika ingin ikut berpartisipasi, silahkan lanjutkan mata rantai yang masih terputus ini.

=====================

Astaga! Ada jerawat besar tumbuh tepat di ujung hidungku yang mungil! Oh... bagaimana ini? Hari ini kan aku ada kencan. Tuhan, tolong aku, plis..

Plis hilangkan jerawat ini. Aku gak ingin jerawat ini mengganggu kencan pertamaku. Pasti kesan pertama jadi begitu tidak menggoda hanya gara-gara jerawat tak berguna ini.

ni...ini...pasti karena..huh! Aku menatap sebal pada stoples kacang goreng yang terletak pasrah di samping dua tumpukan bantalku.

Bantalku sudah sedikit mengering setelah sebelumnya basah oleh air mata. Semalaman tadi bete banget lihat jerawat ini semakin memerah dan membesar. Aduuuhh... kok bisa pas banget gini sih? Giliran Doni mau ngajak kencan, eh jerawat menclok nggak pake aturan!

Aturan! Aku jadi inget Doni yang typenya sok ngatur. Huh, Itu yang nggak aku suka dari Doni! Emang aku anak kecil yang mesti didikte seluruh tingkah lakuku! Hmm... apa sebaiknya aku harus mengundurkan diri jadi pacar Doni ya?

Doni memang cute. Ngga sedikit cewek-cewek yang ngejar dia. Tapi gara-gara itu dia jadi main atur seenaknya. Secara tidak langsung aku bisa nangkep alasan dia: "Nggak mau nurut? ga masalah, masih banyak kok yang mau sama aku!" Duh, ya sayang dong kalo musti ngelepasin Doni. Mending ngalah aja deh.

"Lagi bete gini jadi ngelantur kemana-mana nih!" Cetuk! Nggak sadar aku menjitak kepalaku sendiri. "Gara-gara jerawat sialan!" pikirku sebal.

Aku memilih bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju cermin besar yang tergantung di dinding kamar. Kuperhatikan dengan seksama bayangan diri yang memantul dari cermin. Hmm, secara keseluruhan merupakan satu paket yang hampir sempurna. Kecuali satu hal. Wajahku mendekat ke kaca beberapa senti ingin menyorot lebih dekat bagian wajah. Aaarrgg, memang jerawat sialan! Andai kencan kami adalah sebuah pesta topeng, pasti segalanya akan menjadi lebih mudah. Lha, ini candlelite dinner. Meski cuma diterangi sebatang lilin, tetep aja mata Doni pasti akan terfokus pada jerawat hina ini! Ugh!

Ugh! Sebel deh! Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Kupandangi kembali pantulan wajahku di cermin.

Oh, jerawat itu. Kenapa mesti ada di sana? jeritku dalam hati. Pilu. Perlahan aku mendekatkan wajahku ke cermin hingga ujung hidungku-- di mana jerawat sialan itu bersemayam damai-- nyaris menyentuh kacanya yang bening.

Kedua jari telunjuk kiri dan kanan aku arahkan dengan hati-hati kesana. Ke jerawat itu yang sebentar lagi akan kupencet secara sadis dan terencana. Aku menahan nafas. Inilah saatnya!. Dan...

Dan tok-tok-tok! pintu kamarku diketuk dengan keras.

"Non, ada den Andi!" suara Bi Surti dari balik pintu.

Kedua jariku yang sudah siap menghujam jerawat sialan itu langsung terasa tak bertenaga. Hembusan nafas kesal terlontar dari hidungku.

Andi! Ngapain sih cowok itu tiba-tiba datang? Aku melotot ke arah pantulan wajahku sendiri di cermin. Kenapa suasana buruk seperti ini harus semakin diperparah? Dengan kekesalan yang teramat sangat gara-gara sebutir jerawat yang tidak pernah diundang kedatangannya, sekarang ada tamu tak diundang lainnya. Menjengkelkan!

"Bilang belum pulang sekolah aja Bi!" jeritku tanpa beranjak dari depan cermin.

"Lho, den Andi sudah duduk di ruang tamu, Non!" suara Bi Surti terdengar bingung.

Mau tak mau, aku turun ke ruang tamu.

"Eh, Ndi. Kenapa? Kok ngedadak banget?"

"Idih, kok lu jerawatan gitu sih?" tanya Andi.

"Udah laah, buruan deh, gw ntar malem mau nge-date nih!"

Sesaat, aku melihat perubahan di wajah Andi. Dia jadi tampak murung.

Murung. Selalu wajah murung itu. Raut wajah itu yang selalu hadir tiap aku berbicara tentang date, atau hal-hal yang berkaitan dengan Doni. Raut wajah itu yang selalu membuat aku merasa bersalah. Tapi hari ini aku sudah lelah. Emosiku sudah habis akibat jerawat sialan dan orang ini.

"Udah, langsung aja. Ngapain ke sini?"

"Sini deh aku bisikin." Andi memintaku untuk mendekat.

"Udah ngomong aja gak usah bisik-bisik," jawabku ketus.

"Gak asyik aaah, ini rahasia," Andi memasang wajah penuh teka teki.

Akhirnya aku mendekat pada Andi dan memasang telingaku lebar-lebar.

"Lebarkan mata dan telinga kamu sekali ini aja," bisik Andi mirip desisan. Aku langsung menjauh dan menatap tajam ke bola matanya yang kecil itu.

"Kamu jangan mulai lagi, Ndi. Entah udah berapa kali kamu bisikkan kata-kata yang sama. Napa sih kamu ga ngerti-ngerti juga?"

Andi hanya tersenyum tipis seraya melawan pandanganku. Kami bersitatap. Diam-diam, aku merasakan ada jutaan anak panak yang dilepaskan Andi lewat kilatan di matanya. Aku tau, jika aku biarkan, anak-anak panah itu bisa aja menembus hatiku. Hmm.. cowok ini memang pantang menyerah, tapi sungguh mati aku udah terlanjur sayang sama Doni.

"You look so cute deh dengan jerawat," bisik Andi lembut.

Wajahku mendadak memerah, malu. Dan, aduh.. kenapa tiba-tiba jantungku degupnya kenceng banget yaa??

"Yaa.. bisa nggak sih bilang cute tanpa embel-ember jerawat!" cetusku marah menutupi degup jantung yang semakin kencang ini.

"Kayanya aku denger detak jantung deh, punya siapa ya?" Andi mulai lagi, menggoda!
Dan kuyakin mukaku yang panas ini pasti udah merah semerah sirih yang sering dikunyah neneknya Doni. Ugghh..

Akhirnya aku mundur selangkah. Kalo suasana seperti ini dibiarkan saja, bisa-bisa aku dan cowok ini terdampar di kamar tidur.. uuuppss, kok pikiranku jadi ngelantur. Pasti gara-gara keseringan nongkrong di forum KT Blogfam.

"Udah ah! Sebenarnya mau apa sih kemari? Cepetan, aku mau tidur!"

Andi menatapku heran. "Katanya mau pergi dengan Doni, kok malah tidur?"

"Perginya kan ntar malam. Sekarang mau istirahat dulu. Pake masker, kali aja jerawatnya bisa ilang!"

Andi manggut-manggut. "Bisa sih, pake aspal jalan aja!" celetuknya.

Spontan aku mendelik. "Jahat!"seruku marah dan berbalik masuk ke dalam meninggalkannya sendiri.

Tapi di kamar aku bukannya tidur tapi malah ngedumel, "Andi norak, kampungan, nyebeliiinnn! Aaarrrgghhh!"

Puas marah-marah, sambil rebahan di atas bantal Garfieldku yang besar aku mencoba tidur. Tapi enggak bisa. Rasanya belum puas marah-marah, jadi aku keluar kamar lagi menuju ruang tamu.

"Lho, kok elo masih di sini siiih??"

"Lah eloe katanya mau tidur??" Andi dengan muka nyengirnya membalas.

"Terserah gue donk mau tidur atau nggak!"

"Yeee kok sewot non. PMS yaa?" jawil Andi.

"Aaah udah sana pulang.. pulaaang!!"

"Enggak mauuu!" Andi balas berteriak.

"Pulaaanggg!!!" Aku berusaha menarik Andi keluar rumah.

Andi memang nyebelin banget. Sudah tahu aku selalu pasang muka jutek setiap kali dia datang ke rumah, tapi mukanya udah kayak tembok pagar 30 centi. Tebel banget! Ngga ada kata pantang menyerah untuk selalu datang, dan datang lagi.

Pernah aku tanya, "Kamu tuh maunya apa sih, Ndi?" Masih dengan tampangku yang asli jutek dan kesel banget.

Dengan santai dia menjawab. "Pengen ketemu kamu!"

Lalu aku berkacak pinggang, agar terlihat lebih tidak mengenakkan buat dia. "Sekarang kamu sudah ketemu aku. Nah, pulang lah!"

"Kok pulang? Aku kan baru dateng," Andi menjawab dengan ekspresi bayinya.

Duh, gak ku kuuu! Dia selalu tahu kelemahanku, gak tahan dengan bujukannya.

"Ya, udah. Masuk deh," kataku merengut.

Aku membuka pintu. Herannya cowok itu masih di sana, jadi terpaksa kutanya lagi, "Kenapa?"

"Nggak. Mending kita jalan aja yuk. Kalau tetep di sini, kayaknya kamu bakal marah-marah mulu sama aku. Kasihanilah aku. Kupingku cuma duaaa...!" katanya sok lucu.

Mau tak mau aku tersenyum. "Ya udah, trus kita ngapain?"

"Jalan yuk?"

"Hmm.."

"Hmmm...?"

"Yuk," sahutku akhirnya.

"Nah, gitu dong!" Andi tersenyum.

Aku membalas senyumannya. Bosan juga di rumah mikirin jerawat. Mending jalan saja, setidaknya aku tidak bakal bertemu cermin selama beberapa jam.

Jarum jam di tanganku saat itu menunjukkan pukul 3 sore.

Hah mudah-mudahan bisa pulang sebelum jam 5. Bisa gagal niyh rencana nge-date dengan Doni.

Tapi, apa mending jalan ama Doni-nya dibatalin aja ya? Kan malu ketemu Doni dengan kondisi jerawat segede gaban begini.

"Kamu kenapa sih? Kok diem gitu," sambar Andi tiba-tiba.

"Kamu marah ya aku ajak jalan? Padahal tadi kamu udah senyum, aku pikir kamu setuju aja," ujarnya lagi.

Sekilas kulihat kilatan sedih di matanya.

"Oh engga kok ndi, aku cuma lagi pusing dikit," timpalku segera, nggak tega melihat mukanya yang terlihat mulai murung.

Andi menatapku setengah tidak percaya. Raut mukanya pun tidak berubah, masih tetap murung. Ah, aku jadi nggak tega ngeliatnya.

"Ehm.. Ndi, gimana kali kita nonton aja yuq? Terserah deh mo nonton apa. Trus udah gitu kita makan ya? Aku lagi pengen banget makan sushi niy," sahutku dengan muka yang sengaja dibuat lebih ceria dari seharusnya.

Adoh!! Ngapain juga aku pake nawarin nonton? Udah tau 2 jam lagi aku mau jalan sama Doni..

"Boleh, kalo gitu aku beli tiketnya dulu. Kamu tolong beli makanannya yah. Awas jangan ngutang sama mbak-mbaknya loh," Andi menggoda dan kemudian meninggalkanku.

Duuuh gimana doong. Aku musti buat keputusan nih.

Aku masih berdiri bimbang, sementara Andi sudah mulai bergerak dalam antrian tiket. Beribu pikiran berputar-putar di benakku. Semua mengarah pada dua hal: Andi dan Doni!

Dalam langkah tak tentu aku melangkah menuju eskalator. Selangkah lagi, aku akan ikut bergerak turun dalam irama putaran tangga-tangga berjalan itu.

Sebuah keputusan bodoh aku mengikuti Andi ke sini! Aku mengutuk diri sendiri berulang-ulang dalam hati.

'Hati-hati mbak, jangan ngelamun di sini."

Hatiku tiba-tiba teringat Doni. Oh God! Pun di sini cuma Doni aja yang kebayang. Dari kejauhan aku melihat punggung Andi yang sedang mengantri di loket. Ugg..aku membayangkan kalau itu adalah punggung Doni dan aku memeluknya dari belakang (sial! segera kuhentikan pikiran yang mulai melantur ini) Apa lagi lihatlah, punggung Doni tidak sekurus cowok nekat yang tidak ada mati-matinya ngerayu aku, seperti Andi itu!
Itu Doni!

Rasa kaget seketika menerpa. Nah loh! Ketahuan deh aku jalan ama Andi! Eh, tapi nanti dulu. Itu Doni sama siapa?

"Siapa perempuan itu. Sial!"

Tapi tenang.. tenang.. lihatlah lingkar pinggang perempuan itu hoho...tentunya dua kali pinggangku! Hup, aku tersenyum menang. Tapi oh... biar bagaimanapun, dia juga perempuan, bukan?Perlahan-lahan aku mendekat dan segera berdiri di balik tembok. Mataku tak henti-henti memperhatikan Doni. Hanya wajah cakepnya saja yang nampak. Sementara orang di sebelahnya sedang sibuk melihat-lihat baju. Mataku spontan melihat nama toko tersebut. Kok mereka belanja di butik mahal sih? Sedangkan membeli bunga untukku saja Doni suka enggan. Lebih sering mencomot bunga mawar mama dari teras rumah sebelum memijit bel dan memberikannya padaku. Sampai detik ini aku masih menganggap itu adalah tanda romantisnya Doni. Tapi sekarang? Huh, emang dasar lelaki pelit! rutukku dalam hati.

Aku kembali beringsut mendekat. Mataku semakin membelalak melihat sebuah tangan terangkat mengacungkan sebuah blus cantik dan kepala Doni manggut-manggut. Ugh! Semakin panas hatiku melihat si penjaga menerima blus itu dan tangan Doni merogoh saku celana belakang. Pasti mau membayar. Sebel!!

"Sebel! sebel!" aku memaki dalam hati. "Siapa sih tuh cewek? Kok bisa sih Doni jalan sama cewek lain padahal beberapa jam lagi dia mau kencan sama aku?"

Ups! sebuah introspeksi diri sebetulnya. Kok bisa sih aku jalan sama Andi sekarang, padahal bentar lagi mau jalan sama Doni?

Mataku masih tak lepas dari toko di mana Doni dan cewek itu berada, ketika tiba-tiba ada tepukan mengagetkan di pundakku.

"Lagi ngapain di sini?"

"Di sini eh di sini!" teriakku latah sambil refleks menoleh ke belakang.

"Haha!" si orang iseng itu tertawa. "Katanya udah gak latah lagi?"

"Rere??" aku terbelalak melihat sahabatku itu. Lalu aku ingat aku sedang mengintai Doni. Kutarik Rere agar ikut bersembunyi.

"Itu. Coba deh lu liat itu," aku menunjuk pada Doni dan perempuan yang sedang bersamanya. "Masa dia jalan ama cewe laen? Padahal dia ada janji ama gua nanti jam 5!"

Rere mengintip sedikit, lalu melihatku dengan bingung. "Say," bisiknya perlahan. "I'm very sorry to tell you this..."

"Apaan sih? Kok jadi bahasa Inggris?"

"Iya, sebenernya.. Doni ama cewek itu.."

Belum sempat Rere menyelesaikan kalimatnya, sebuah celetukan terdengar, "Doni ama cewek mana?"

Aku menoleh dan segera lemas. "Andi, kok cepet banget baliknya?"

"Lho, kamu yang mendadak ngilang. Ayo, katanya mau nonton!"

Nonton? Kepalaku mendadak puyeng.Rere memandangi kami bergantian. Keningnya berkerut. Dan aku malas bertanya kenapa.

Kenapa tiba-tiba hari ini aku dikagetin banyak banget orang? Tadi si Andi tiba-tiba muncul di rumah, terus di sini kaget liat Doni jalan sama cewe laen, terus si Rere nongol tanpa peringatan, eeeeh, sekarang si Andi lagi tak terduga udah selesai ngantri tiket. Jangan bilang kalau sebentar lagi aku bakal ngeliat Pak Kepsek jalan-jalan sama istri mudanya.

Andi menarik tanganku. Ada hentakan kuat yang kurasakan. Mau apa lagi? Nasi sudah menjadi bubur.

----

Film ini sudah setengah jam berputar. Entah bagaimana ceritanya. Yang kutahu hanya si Brad Pitt yang masih ganteng aja. Sisanya? Kuhabiskan mencuri pandang jam yang terus berputar.

Duh, udah 5 menit lewat dari jam 5. Kenapa juga Dony gak nelpon nelpon?? Siapa sih tu cewek? Awas yah Doon. Tak kusadari aku memutar-mutar handphoneku. Berharap ada getaran terjadi di sana.

Trrt trrt

Bergetar!!!

Bergetar!?

Fff... tiba-tiba hatiku serasa ikut bergetar! Nah loh, bagaimana ini???

Aq mencoba bersikap biasa (tentu saja! kalau tidak, si konyol Andi pasti mulai lagi dengan pertanyaan tidak bermutunya: ada apa? kebelet yak? aku temenin? Huaaahh, sebbal.. sebball.. koq ga ada abis-abisnya ya kalo deket Andi!).

Hmm.. tenang, tenang, aku mulai meraih ponselku. Ya ini pasti dari Doni! Hff.. aku mulai berpikir sepertinya aku harus menyelinap keluar tanpa diikuti Andi.

Oke, aku mulai memencet handphoneku..

dan..

Sayang, jam berapa pulang?

Aku terhenyak lemas. Yah, kirain siapa. Rupanya mama. Sebuah sentuhan mendarat di lenganku.

"Psst, siapa?"

"Mama!"

Andi manggut-manggut. "Bilang aja ke calon mertua, nanti anak gadisnya kuantar sampe rumah dengan selamat. Paling lecet dikit di pipi!" kerlingnya.

Aku melotot nyaris muntah. "Berani bikin lecet pipiku? Belum pernah dicolok pake sedotan ya?" Aku julurkan sedotan bekas minumanku. Andi mesem-mesem.

"Mesem-mesem kaya gitu jelek, tau!" aku melotot.

Eh.. tuh ancrit, eh Andi masih aja memamerkan kuluman senyum di bibir tebalnya. Huh!

"Aku mau pulang," kataku segera, "kamu terusin aja nontonnya!"

"Eh, hunny, aku lebih suka nontonin kamu koq dari pada film jelek ini," ujar Andi kedengaran seperti desahan, tepat di telingaku.

Hueekkk...aku merasa eneg dan menjauhkan telingaku dari bibirnya yang terus aja mencari kesempatan.

"Kamu benar-benar menyebalkan!" cetusku jengkel sebelum berlalu meninggalkan cowok yang paling menjengkelkan di dunia itu!

Aku yakin pasti si Andi akan segera menyusulku, menahanku supaya tidak pergi, memohon-mohon, bahkan mungkin berlutut sambil meraung-raung. Ya, dia memang separah itu. Kalau itu dia lakukan, aku tak akan perduli! Biar saja dia meraung-raung tanpa malu dan menjadi tontonan gratis manusia satu mall, aku akan tetap bergeming! Huh! Menyebalkan!


5 meter, 10 meter, 15 meter..

Lho? Mana dia? Kepalaku sudah tak tahan ingin menengok kebelakang, tapi aku menguatkan diri. Gengsi, bo!

20 meter...

Telinga aku lebar-lebarkan demi mencari nada raungan seorang Andi.

Tidak ada raungan?
Andi tidak mengejarku?
Hah?
Hah?? Aku merasakan lututku lemas dan harapanku menguap!

"Brengsek! dasar buaya! ngomongnya film jelek, toh ditonton juga!" bibirku ngomel-ngomel nggak jelas. "Dasar nggak mau rugi!"

Payah! Payah! Payah!
Aku mulai menyesali menuruti kemauan Andi datang ke Mall ini dan nonton film yang nggak jelas banget mutunya. Kalo saja berhasil mengusir Andi siang tadi, saat ini aku pasti sudah siap menanti kedatangan Doni. Tanpa sadar aku melirik jam tangan di pergelangan.
Shit! 10 menit lagi menuju jam 5!!
Waduh!
Waduh ! aku sempet senewen sendiri jadinya. Kalo kayak gini sih nge date apaan?
Aku bener-bener nyesel...nyeseeeeellll banget kok bisa sih aku sesial ini?

Edan deh.Emang aku nya yang salah padahal kan aku sudah tahu gimana si Andi....Oh Tuhan sekarang aku mesti gimana nih? Doni.. Andi sama saja.. sama-sama makhluk menyebalkan.

"Pfff"

Sungguh menyebalkan!gerutuku sambil menuju lift. Pintu lift terbuka, dan..

"Hi Mel, kok kamu di sini?" tanpa rasa bersalah, Doni menyapaku. Terlihat wajah bingungnya yang gak bisa disembunyikan lagi.

"Eh, Doni...mm..mmm...itu...” Aduh! kok aku jadi salah tingkah gini ya? Sambil melirik ke perempuan di sebelahnya.

Doni memperkenalkan kami, "Mel, kenalin, ini mamaku!"

Apa!? Ya ampun Doni, maafkan kelancanganku tadi yang telah berprasangka. "Halo Tante, Melly." Aku hanya bisa senyum-senyum membalas tatapan ramah dari mamanya Doni yang terlihat sangat awet muda.

***

Posted on February 6, 2008 3:00 AM |

Komentar (1)

ayoooooo lanjjuutt lagiii yuukk :D

Tulis komentar anda

(Komentar akan melalui proses moderasi.)



 Lainnya: