Yang Terpenting adalah Perjalanan Menuju Puncak
Mendeteksi blogger yang pendaki gunung, kami ibaratkan seperti mencari jejak di hutan lebat. Aktual kali ini, hanya berhasil menjaring seorang responden sebagai sumber tulisan kami. Mudah-mudahan kami salah mengira bahwa hanya sedikit pendaki gunung yang aktif menulis blog.
Berikut adalah cuplikan obrolan kami:
"Mountaineering saya kenal waktu bergabung di Satuan Resimen Mahasiswa ITS di tahun 1997, tak lebih dari sekedar penikmat," Adriansyah Sinaga membuka percakapan kami lewat emai. "Ketika tahun 1998 diangkat jadi Komandan Satuan, perhatian saya di bidang mountaineering 'terpaksa' harus lebih diperdalam, agar bisa memberi arahan dan petunjuk yang tepat dan benar kepada staff dan anggota yang lain. Karena aktivitas kuliah juga semakin meningkat di tahun 1999 untuk
persiapan wisuda, gesekan dengan dunia mountaineering mulai berkurang, dan mulai menggila lagi ketika sudah bekerja di Jakarta," lanjut Sarjana teknik yang berdomisili di Jakarta Pusat ini.
Tahun 2003, Adriansyah bertemu dengan beberapa komunitas yang beraneka ragam intensitas dan minatnya di kegiatan yang berkaitan dengan alam - outdoor acitivities. Dimulai dari pendakian ke pegunungan Annapurna di Nepal (awal tahun 2004) dan diikuti dengan ekspedisi ke Gunung Semeru (tertinggi di pulau Jawa - 3676 dpl) di akhir 2004.
Hal terbesar yang dipahami setelah melakukan serangkaian pendakian bagi pria kelahiran Tanjung Balai 13 Juni 1976 ini adalah kue moci itu enak. "Serius nii... apalagi kalo dimakan di puncak gunung," ujarnya ceria. Tapi kemudian ia menambahkan, "Mungkin karena cenderung hanya bisa punya perlengkapan dan pasokan makanan yang minim, mau gak mau pemahaman : saya gak punya apa-apa untuk dibanggakan kecuali hati yang bersih, semakin kuat tertanam. Hehehe.. saya gak bermaksud emphasize kalau punya hati yang bersih, tapi apalagi yang tersisa untuk diperbaiki kalo bukan hati dan pikiran ketika dunia materialistik dipilih untuk ditinggalkan secara sadar?"
Menurut Adriansyah, karena hati dan pikiran relatif menjadi lebih bersih, penilaian terhadap diri insyaAllah menjadi lebih adil. Mulai terlihat jelas betapa egoisnya dulu dengan teman sejawat, betapa rakusnya ketika ditawari proyek plus-plus. Yang jelas, hidup akan menjadi lebih sulit kalau dijalani dengan hati dan pikiran yang tidak bersih. Salah satu contoh sederhana untuk memahaminya adalah dengan naik gunung.

Wajar kalo berpikir kalau naik gunung itu adalah sesuatu yang sukar, baginya yang terbiasa naik turun mobil. "Dengan memilih untuk mempersulit diri saya melalui pendakian, saya jadi 'dipaksa' untuk berpikir jernih dan berhati bersih agar bisa menikmati perjalanan. Pada akhirnya, perjalanan selama pendakian lah yang menjadi penting dan selalu saya rindukan setiap memutuskan naik gunung, bukan ketika berada di puncak gunungya. Kalo sekedar melihat pemandangan, aduuh.. gak usah capek-capek deh.. mending pantengin saluran National Geographic. Lagian, setelah nyampe di puncak gunung, yang terlihat malah gersangnya puncak, gak ada indah-indahnya."
Bagaimana dengan orang lain yang tidak punya pilihan untuk hidup susah karena memang sudah susah?
Bagi Adriansyah, tidak ada yang menjadi inspiratornya untuk membuat blog bidang mountairing apalagi isi blognya lebih ke arah blog personal non mountairing dalam arti berbagi pengalaman baik teknis maupun non-teknis di bidang pendakian gunung. Adriansyah menggunakan fasilitas multiply untuk meng-upload foto-foto selama melakukan kegiatan (salah satunya mountairing).
Pengalaman menariknya selama ngeblog lebih berupa introspeksi diri: "Ketika saya memutuskan untuk menyumbang tulisan ini - dan sekarang sudah hampir 1 jam mengolah kata, saya merasa bahwa saya sedang melakukan bagi-bagi wacana yang somehow membuat saya merasa lebih hadir, dan saya bahagia. Kebahagiaan gak ada artinya kalo gak dibagi dengan yang lain kan? Pengalaman menarik? Beberapa komentar bilang bahwa saya bisa menulis. Sayangnya, saya malah berharap ada yang komentar kalo saya bisa bikin foto bagus hehehehe.."
***

Komentar (4)
Salam lestari... aku sangat senang mendaki gunung,,, bagiku mendaki gunung bukan hanya sekedar menikmati sebuah perjalanan. ada filosofi yang begitu dalam dalam pendakian gunung. filosofi mendaki gunung sebenarnya sama dengan mendaki puncak kehidupan anda,,, logikanya begini.. "bagaimana anda mendaki puncak sebuah gunung itu menggambarkan bagaimana anda mendaki puncak kehidupan anda" dan penantian seorang pendaki adalah puncak. juga perlu diketahui bahwa dalam sebuah pendakian bukanlah puncak gunung itu yang harus kita taklukan melainkan puncak diri anda (mental) yg ditaklukan. pendakian itu begitu indah dan menyenangkan apabila kita menikmati setiap momen pendakiannya dan tetap brpegang pada "spirit of the climbers"...
@ March 14, 2008 16:35
Kekuatan!!!!! 55
Widya Castrena Dharma Siddha
To Pak Adriansyah Sinaga
Pak, salam kenal. Saya juga anggota Menwa 802 ITS Angkatan 55 (2005). Boleh minta nomor HP n alamatnya? Soalnya bwat database alumni. Kita mo ngadain acara temu alumni tahun depan. Rencananya Semuanya Diundang.Nomor markas msh aktif lho pak (031-5998380), sekalian sama alumni yang lain ya.
Trimaksih!!
@ June 14, 2008 07:15
selamat pagi
slam kenal dan saya anggota menwa satuan 802 its cakti 59. mountenering tuh hanya sebagian kecil dari dasar-dasar oprasi gunung. n aku mintra ilmu sandhi yudhanya dunk? dan info pendaftarannya di mana??
ini nomor telpon mako menwa its/ markas kita (031)5998380 n tempatnya juga masih sama di kantin pusat its lantai 2 gedung l-204. n juga para penghuninya juga sama para mahasiswa its yang menjadi anggota menwa. kami juga akan mengadakan temu alumni tahun depan. posisi saya sebagai wadanpokma. saya kira cukup mohon ijin harap dibalas.
eko yudha luhur jatmiko
081805362090
fs(eko_kapal@yahoo.com)
@ June 14, 2008 07:43
Selamat siang pak??!!
saya anggota menwa 802 ITS angkatan 56. Salam kenal pak. Ditunggu berbagi pengalamannya ya pak, ditunggu kehadirannya di markas.
@ August 14, 2008 10:56