Bila Selebriti Ngeblog
Oleh: Iman Brotoseno
Saat istirahat makan siang, Deasy Ratnasari menggeser kursinya duduk ke sebelah saya karena ia sangat curious dengan apa yang sedang saya lakukan. Blogwalking.
Seperti biasa saya selalu menunjukan sebuah suara dunia baru kepada para seleb yang sedang syuting bersama saya. Demikian juga sambil duduk menikmati senja di candidasa, Bali - Mbak Christine Hakim bisa berkonsentrasi membaca sebuah tulisan dalam blog saya tentang dirinya.
"Bagaimana membuat sebuah blog?" Ia bertanya.
Namun sebagian besar memang tidak atau belum membuatnya walau sudah saya beritahu cara and know how - nya. Bisa jadi karena memang kesibukannya atau benar benar gaptek. Jangan salah, hampir sebagian besar seleb dan artis memang gaptek dan sangat jauh dari dunia internet. Sehingga ketika Dian Sastro, Wulan Guritno sampai Maia Estianti ramai ramai membuat blog. Ini merupakan pengecualian dari the happy selected few celebrity yang mengerti teknologi internet. Tentu saja mereka sangat sadar dengan pencitraan dirinya melalui suara baru ini, yang selama ini dilihat melalui media TV atau infotainment.
Percaya atau tidak, walaupun banyak orang menghujat infotainment dan sinetron sebagai sumber pembodohan sistematis, namun dalam rating televisi, kedua acara ini selalu memiliki angka tinggi. Bukti bahwa para penonton - dan kita para blogger matian matian menolak dikategorikan jenis ini - selalu menunggu berita tentang sepak terjang para selebritis. Kapan saja dan di mana saja.
Euforia ini juga sama ketika para selebritis mulai meramaikan dunia blogsphere ini. Seolah olah ada penawaran alternatif pemberitaan melalui dunia maya, tidak melulu harus melalui TV atau Tabloid. Saya melihatnya sebagai sisi lain sebuah infotainment.
Pertama.
Banyak selebritis mulai menyadari sebuah era jurnalisme baru - walau saat ini hanya sebatas curhat atau jurnal harian - melalui dunia internet. Ini bisa jadi sangat potensial untuk public relations dan citra seleb yang bersangkutan. Sementara bagi para pemirsa di dunia luar sana, mereka menemukan bentuk partisipasi aktif melalui komunikasi media komen. Sesuatu yang
tidak pernah terjadi dalam dunia TV atau tabloid. Lihat saja dalam komentar di blog Maia, bisa menembus angka seribu, dan hampir sebagian besar bukan blogger. Hanya pembaca saja. Ini bisa saya asumsikan dari tidak adanya trackback link website atau blog dari pemberi komen. Ruang komen di sini hampir berfungsi semacam forum ala detikhot misalnya.
Kedua.
Jangan berharap bahwa mereka akan blogwalking atau meninggalkan sebuah komen di tempat kita. Ada kecenderungan yang mereka bawa dari dunianya. Sebuah dunia yang harus menjaga jarak dengan the strangers - orang orang yang tak dikenal - dalam kehidupan sehari hari. Banyak seleb justru merasa tak nyaman jika harus dikejar kejar atau menjadi pusat perhatian ketika dia sedang belanja atau jalan jalan di mall misalnya. Konsekuensinya ada dari mereka yang memoderasi setiap komen, ataupun kalau tidak dimoderasi, saya yakin mereka tidak membaca - dan tidak peduli - setiap komen yang masuk di tempatnya.
Ketiga.
Banyak yang bertanya, apakah si anu benar benar menulis blognya sendiri. Tentu saya tidak bisa menjawabnya, karena saya tidak mengenal seluruh selebritis yang ada. Hanya ada beberapa yang saya tahu dia benar benar menulis sendiri, dan ada juga yang mempercayai pada orang lain atau team suksesnya untuk menulis. Ini memang karena dia tidak terbiasa menulis, kesibukan yang luar biasa atau tidak tahu internet. Bagi saya, persoalannya adalah bahwa bukan siapa yang menulis, tetapi apakah isi blognya memberikan sesuatu kepada dunia. Sebuah suara gagasan yang bermanfaat.
Saya teringat suatu hari dulu, seorang blogger senior meminta saya agar menjadi dutabesar blog terhadap para selebritis ini. Lebih merangkul mereka. Alasannya, bahwa bagaimanapun suara blogger lebih mudah didengar dengan adanya dukungan suara suara mereka yang sudah mempunyai massa di luar. Masuk akal memang.
Sebuah suara tentang dana kemanusiaan atau kampanye suatu issue bisa lebih terdengar dengan adanya partisipasi mereka yang selama ini mudah menjadi penggalang suara.
Akhirnya jauh lebih penting bagi kita untuk kembali kepada diri kita sendiri. Haruskah kita terlibat euphoria berlebihan terhadap sebuah blog selebritis? Atau memang kita menganggap blog mereka sebagi suatu perpanjangan infotainment versi lain? Kalau tidak biarlah seleksi alam akan menilai, terutama dari segi konten dan konsistensinya.
Walaupun demikian, selamat datang di dunia blogsphere wahai para selebritis!
Posted on April 6, 2008 2:00 PM | Permalink

Komentar (1)
dalam sebuah episode republik mimpi
dibahas tentang bagaimana rating televisi tersebut "disetir", salah satunya waktu itu ketidak efektifan pemakaian peoplemeter di indonesia sini
mungkin bisa dibahas lebih lanjut sebagai salah satu postingan :)
@ April 7, 2008 13:07