Artikel:

Menjelajahi Puisi Banal ala Joko Pinurbo

bincang






Judul Buku: Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung
Penulis: Joko Pinurbo
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama Tahun 2007
Jumlah halaman: xi, 219.

Saya ingat sekali beberapa waktu lampau di forum Blogfam, seorang penulis puisi yang rajin membuat puisi (tapi bukan pengrajin puisi) melemparkan karya puisinya ke ruang diskusi. Dan ada seorang penanggap yang mengritiknya secara menarik. Menurutnya, membangun puisi berarti mengurangi bahasa tuturan sehari-hari, dibawa ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga diharapkan membawa imajinasi, itulah puisi yang sejati.

Saya pun tercenung, ingin mengiyakan tapi kok tidak rela. Sampai pada suatu ketika saya dipertemukan dengan sajak Joko Pinurbo (penyair asal Sukabumi yang sudah mendapatkan berbagai macam penghargaan di bidang kesusasteraan, seperti yang terakhir adalah Penghargaan Sastra Khatulistiwa di tahun 2005). Sayangnya, saya baru terpaparkan dengan puisi Joko Pinurbo (selanjutnya kita sebut Jokpin saja ya) baru-baru ini saja (betapa telatnya ya), setelah membaca 'Kredo Celana'-nya di sebuah surat kabar ternama, dan dilanjutkan dengan membaca buku kumpulan puisinya yang baru diterbitkan akhir tahun lalu,yang hendak saya ulas ini.

Dalam buku kumpulan puisinya yang berjudul "Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung" ini, saya menemukan alasan untuk bisa dengan mantap menggelengkan kepala dengan sekeras-kerasnya terhadap pemahaman bahwa puisi sejati harus ruwet dan rumit penuh misteri dan abstraksi dan diksi yang menyingkirkan bahasa sehari-hari. Ya, puisinya Jokpin adalah puisi yang banal, yang tulus dan dasar, yang memelihara kejujuran dan kesederhanaan sastra (begitu kata Ayu Utami).

Buku ini merupakan buku yang merangkum ulang 3 buku Jokpin sebelumnya: Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), dan Pacarkecilku (2002), namun dengan sedikit penambahan dan pengurangan di sana-sini, pada akhirnya adalah sebuah dokumentasi secara kronologis hasil karya Jokpin mulai dari tahun 1999 sampai 2000. Sayang ya, jadinya tidak lengkap mencatat semua. namun biar saya anggap kumpulan terpilih ini menjadi rangkuman dari semua karya terbaik beliau. Di luar buku ini sebenarnya ada buku-buku lain karya beliau setelah tahun 2000. Tapi mungkin sudah merupakan nasib, sajak-sajak beliau menghampiri saya melalui buku ini, untuk kemudian saya di kemudian hari nanti dilarung ke buku-buku beliau berikutnya, saya berharap suatu hari.

Seperti saya kemukakan dari awal tadi, sajak-sajak dalam buku ini bercerita hal dan kata-kata sehari-hari, tapi bukan berarti sajak-sajak tersebut bangkrut tidak bisa menawarkan imajinasi. Sebaliknya kata-katanya seperti mengeruk hati dan membiarkan imajinasi mengalir di setiap bagian kata, baris dan paragraph. Kadang melompat di setiap perpindahan baris dan paragraph, namun kadang mengalir tenang dari awal sampai tengah tubuh sang sajak, untuk kemudian terlompat hebat di ujung sajaknya.

Lihat saja tabel daftar isi judul-judul puisinya, sudah menggoda Anda untuk tersenyum, apalagi kalau Anda menjelajahi kata-kata di dalamnya. Puisinya tidak bergenit-genit ria dengan abstraksi, tidak angkuh dengan bermacam kosakata canggih yang sok seksi atau bahasa level tinggi. Ia bercerita tentang penjual buah, penjual akik, penagih utang, perias jenasah, pak guru, tukang cukur, dan penjaga malam, dengan terang benderang tapi sambil menawarkan beragam makna yang menggoda untuk diterawang. Namun tak sekedar itu. Jokpin membawa kita menikmati sebuah keintiman. Keintiman dengan kesehari-harian. Keintiman dengan kata-kata. Keintiman yang merengkuh diri sang pembaca. Keinginan yang meninggalkan makna-makna.

Tepat kata seorang pengamat sastra: "Membuat karya puisi bukan sekedar membaguskan bahasa, namun lebih dari itu, ia semestinya menawarkan makna." Dan dengan membaca puisi-puisi Jokpin di buku kumpulan puisinya ini, saya bisa memberanikan diri menghadapi intimidasi orang yang lebih pandai berpuisi. Alih-alih puisinya membuat saya berani untuk menikmati puisi.

Jadi tunggu apa lagi, jangan takut berpuisi, dan nikmatilah kata-kata, yang seperti kata Jokpin, adalah seperti kurcaci yang menggoda untuk bermain bersama dan bukan pertapa suci yang kebal godaan.

*** (bdwiagus)

Posted on April 6, 2008 7:00 AM |
 Lainnya: