Artikel:

HIV/AIDS: Beware!

fit

Kesehatan adalah salah satu hal tidak dapat kita sepelekan. Karena kesehatan merupakan anugerah dari Tuhan yang tiada ternilai harganya. Bayangkan jika sehari saja kita sakit, ingin rasanya kita kembali kepada masa-masa sehat di mana kita bisa melakukan aktivitas apapun yang kita sukai.

Salah satu kasus kesehatan yang tidak pernah habis dibahas di belahan dunia manapun termasuk di Indonesia adalah HIV/AIDS yang belum bisa disembuhkan hingga saat ini. Dunia pun turut mengambil andil dalam segala tindak pencegahan dari HIV/AIDS ini.

Dalam rangka memperingati Hari AIDS sedunia beberapa waktu silam, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Doha, Qatar mengajak seluruh masyarakat Indonesia yang berada di Qatar untuk bertukar fikiran serta berdiskusi tentang bahaya HIV/AIDS bagi kehidupan manusia. Acara yang diadakan di Wisma Duta tersebut sangat menarik minat masyarakat dari berbagai kalangan.
Pasalnya, kasus HIV/AIDS ini harus kita waspadai. Seperti dikatakan oleh H.M.Rozy Munir,SE,MSc., Duta Besar RI untuk Qatar sekaligus sebagai nara sumber pertama mengatakan bahwa HIV/AIDS adalah salah satu hal yang menjadi pusat perhatian dari ICPD (International Conference of Population and Development) pada tahun 1994 di Kairo. Konferensi ini menghasilkan kesepakatan untuk mengintegrasikan populasi penduduk dunia dengan berfokus pada sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Dan ini diwujudkan melalui program MDGs (Millenium Development Goals).

Di Indonesia diperkirakan terdapat 170 ribu orang yang menderita HIV (2005). Bahkan saat ini menurut UNAIDS, angkanya sudah mencapai 290 ribu orang tersebar di seluruh propinsi di Indonesia. Kenapa HIV ini bisa menular dan meluas lebih cepat? Dikatakan bahwa Indonesia sudah menjadi konsumen dan sekaligus produsen narkoba. Dan seperti sudah kita ketahui bersama bahwa penularan HIV/AIDS ini bisa melalui hubungan seksual dengan penderita HIV/AIDS, melalui jarum suntik yang dipakai bergantian dengan penderita (ini banyak terjadi dikalangan pecandu narkoba), dan juga melalui transfusi darah.

Dr. Rahmat Soebekti, nara sumber kedua lebih memfokuskan diskusinya pada pencegahan dan penanganan HIV/AIDS. Ia mengatakan bahwa, pengidap HIV tidak ada gejala khusus dalam waktu 3-10 tahun. Namun setelah AIDS mulai berkembang akan terjadi gejala-gejala seperti berikut:

a. Kehilangan berat badan secara drastis.
b. Diare yang berkelanjutan.
c. Pembengkakan pada leher dan/atau ketiak.
d. Batuk terus disertai gangguan pernafasan.

Satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa seseorang terinfeksi HIV adalah melalui tes darah HIV.

Guna mencegah penyebaran HIV dapat dilakukan hal-hal promotif dan preventif sebagai berikut:

- Meningkatkan penyuluhan dan penyebaran informasi yang benar tentang HIV/AIDS.
- Memahami penyakit menular seksual adalah berbahaya dan pencegahannya.
- Promosi perilaku seksual aman.
- Promosi dan distribusi kondom.
- Peningkatan gaya hidup sehat dan penerapan norma hidup sehat.
- Penggunaan alat suntik yang aman.
- Pengadaan konseling tentang HIV/AIDS secara berkesinambungan.

Perlu diketahui, bahwa HIV/AIDS tidak menular melalui jabatan tangan, ciuman, sentuhan, pelukan, makan/minum bersama, memakai toilet bersama, gigitan nyamuk atau serangga dan juga tidak menular jika kita tinggal serumah dengan penderita.

Hal yang senada pun diutarakan oleh Dr. Luskareni S, sebagai pembicara yang ketiga. Ditambahkan olehnya, bahwa peranan lingkungan dan masyarakat sangat berpengaruh penting bagi para penderita HIV/AIDS ini agar virus kronik ini tidak semakin menjadi dan meluas.

Seperti kita ketahui, banyak orang yang dengan kurangnya pengetahuan tentang virus ini sering menjauhi malah semakin mengucilkan penderita. Dan justru inilah yang membuat si penderita semakin tidak memiliki kemauan yang kuat untuk sembuh dan disembuhkan.

Saya jadi ingat ketika membaca sebuah postingan di salah satu milis. Ada seorang yang bercerita tentang seorang anak temannya yang ketika sedang jalan-jalan di mall besar didatangi oleh sekelompok orang muda, kemudian anak itu dilukai dengan pisau atau benda tajam lalu ditempelkannya darah orang muda itu ketangan si anak. Lalu dilempari kertas yang bertuliskan "Selamat datang didunia kami!"
Sungguh ironis. Miris saya membacanya ketika si penderita sungguh antusias untuk menularkan virusnya itu dengan berbagai cara, bahkan kepada anak yang tidak berdosa sekalipun.

Inilah salah satu wujud peranan masyarakat yang sangat diutamakan. Di mana kita diajak untuk tidak mengucilkan dan menyudutkan penderita. Kita diajak untuk menggandeng tangan mereka agar mereka bisa memiliki harapan untuk hidup lebih lama. Walau mereka tahu, mereka mengidap penyakit yang belum dapat disembuhkan itu. Karena mereka tahu, jika AIDS telah menyerang mereka, maka harapan hidup mereka adalah tinggal sebentar lagi. Untuk itulah, Dr. Luskareni S. menegaskan kembali akan arti peranan masyarakat dalam penanggulangan serta pencegahan HIV/AIDS.

Nara sumber terakhir, Drs. Muhammad Agus Mulyana, MA., menegaskan akan pentingnya peranan agama dalam upaya pencegahan virus HIV/AIDS ini.

Upaya-upaya yang dapat kita lakukan melalui pendekatan agama seperti dikutip berikut:

a. Perhatian kepada orang sakit.
b. Hubungan seksual dan kontak sosial yang sehat.
c. Peranan keluarga, masyarakat dan terapi agama.
d. Menjauhi penyebab-penyebab tertularnya virus HIV/AIDS.

Pertemuan Nasional HIV/AIDS Lintas Agama yang diselenggarakan oleh Jaringan Lintas Agama untuk AIDS (JALA) Indonesia atas dukungan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, World Vision Indonesia, UNICEF dan UNAIDS pada tanggal 7 Mei 2007, di kantor Menkokesra-Jakarta, sepakat membuat Seruan Aksi. Dan di antara butir-butir seruan aksi itu adalah menerapkan ajaran spiritual dan ayat-ayat suci keagamaan yang berlandaskan kasih sayang dalam upaya penyembuhan dan dukungan bagi orang dengan HIV/AIDS. Seruan Aksi ini ditandatangani oleh semua wakil agama.

Para ahli medis dan para ilmuwan telah melakukan riset dengan hasil bahwa orang yang kuat agamanya akan lebih sehat, kalau kena penyakit akan mudah sembuh, tidak mudah stress, dan menatap masa depan dengan optimis. Penemuan itu membuktikan bahwa agama dan kehidupan spiritual berperan penting dalam pengobatan dan pencegahan HIV/AIDS.

HIV/AIDS belum dapat disembuhkan, tetapi dapat diobati dan dicegah!

BEWARE!

**** (@rien)


(Kutipan materi yang disampaikan dalam acara Roundtable Discussion dalam rangka menyambut Hari AIDS sedunia, Doha, 30 November 2007)

images dari sini

Foto-foto kegiatan bisa di klik di sini

Posted on May 6, 2008 3:00 AM |

Tulis komentar anda

(Komentar akan melalui proses moderasi.)



 Lainnya: