Kartini, Perempuan dan Emansipasi
Emanisapsi dan Wanita, kata yang sepertinya sekarang telah menjadi makna yang bersahutan satu sama lain. Dalam artian, bahwa emansipasi telah begitu melekat ke dalam diri seorang wanita. Perubahan jaman, tuntutan jaman dan kebutuhan membuat emansipasi selalu dibutuhkan.
Kartini, seorang wanita kelahiran Jepara adalah seorang yang mendobrak kebuntuan dan kunkungan wanita yang selalu diperlakukan tidak adil dalam beberapa aspek kehidupan oleh laki-laki. Secara kodrati, wanita diciptakan untuk menemani laki-laki, namun bukan berarti wanita layak diperlakukan tidak adil.
Lalu, bila Blogfamous ditanya apakah yang akan kaum perempuan lakukan agar bisa seperti Kartini pada masanya, dan selanjutnya, apakah kaum ini puas dengan kemajuan Kartini jaman sekarang ini? Begitulah beberapa pertanyaan yang bisa dijadikan sebuah renungan kembali kaum 'Kartini'" masa kini.
Yuukkk, kita tilik beberapa pendapat yang dilontarkan kaum Kartini.
Indah Juli menyatakan bahwa: "Wah berat ini pembicaraannya. Puas nggak puas dengan kemajuan sekarang sih, tergantung orangnya atau perempuannya masing-masing. Apalagi eranya kan beda-beda. Perempuan tahun 70 - 80-an merasa perempuan di masa sekarang nih, sudah lebih enak, karena apa-apa sudah serba ada, teknologi sudah semakin canggih, dan perempuan sekarang lebih berani mengekspresikan dirinya ketimbang era 70 - 80-an, yang meski sudah lebih maju dibanding era sebelumnya, tapi masih juga serba terbatas. Kalau secara pribadi sih, sudah merasa puas dengan keadaan sekarang, dan takut kalau jaman semakin-semakin canggih, malah jadi nggak juntrungan."
Sedangkan Vialli berpendapat: "Kalau menurutku, perkembangannya tuh sudah bagus, meskipun masih banyak juga yang nganggep wanita cuma sebagai pelengkap atau malahan sama sekali tidak dianggap (terutama dari orang yang tidak mendapatkan pendidikan cukup). Gimana biar bisa kayak Kartini? menurutku sih, cewek itu mesti dapet pendidikan yang cukup trus sikapnya juga musti oke dan sadar akan apa yang diri itu bisa lakukan kalo berusaha untuk melakukan sesuatu secara maksimal."
Fitra malah cenderung ingin menambahkan: "Aku sebenernya tidak begitu ngerti kenapa sih musti Kartini. Mengingat Kartini hanya kita kenal dari tulisan-tulisan dan gagasannya, bukan dari kiprahnya. Yang lebih nyata itu Cut Nyak Dien, sebagai perempuan dia lebih nyata kiprahnya dalam mengangkat peran perempuan, lihatlah perjuangan dia. Cuma ndak papa sih sama Kartini. Seneng juga merayakan kartinian ini bisa pake kebaya.”
Sependapat dengan Fitra, @rien menyatakan: "Menurut aku, kita gak perlu lah nyontek-nyontek biar bisa jadi kartini sesungguhnya. Yah, jalanin aja biar kita bisa jadi diri sendiri. Bener kata Fitra, pahlawan wanita itu bukan hanya Kartini aja yang patut dibanggakan. Cut Nyak Dien, Dewi Sartika pahlawan yang membela hak-hak wanita juga kan!
Kalo ditanya puas gak dengan kemajuan perempuan saat ini? Jawabannya pasti gak lah. Karena emang yang namanya manusia gak pernah puas akan apa yang telah mereka dapatkan sekarang. Bukan ingin meminta agar perempuan 'lebih' dalam segalanya dibanding pria, karena emang dari sononya kodratnya emang begitu. Udah suratan takdir kalo wanita harus rela berada di balik bayang-bayang pria, kalo wanita perlu perlindungan pria. Emang udah begono seh, kodratnya."
yayamz, menyatakan: "Contoh real kartini adalah kakakku yang nomer 3. Boleeh dooonk milih kakak sendiri. Menurutku kakakku itu benar-benar menjalankan apa yang memang dimaui sama Kartini dulu. Emansipasi wanita yang tidak melupakan harkatnya sebagai wanita. Mandiri bekerja sendiri tp tetap fokus pada pendidikan anak-anaknya dan kesejahteraan keluarganya."
Lalu bagaimana dari segi cowok yang berbicara mengenai wanita. Kita lihat beberapa pendapat dari Blogfamous.
Juraganpribumi , menyatakan: "Kartini? Menurut aku, menjadi Kartini tidak ada korelasinya dengan keterbatasan atau kemudahan yang diberikan zaman. Kalo aku liat lebih pada menghargai kodrat dan menghargai kemampuan yang diberikanNya. Kalo sebatas udah bisa megang Henpon dibilang bentuk emansipasi yang dicita-citakan Kartini gaswat jugak! Tapi kalo bisa bikin henpon plus bisa merawat keluarga, merawat harga diri dengan baik baru disebut emansipasi sesuai cita-cita Kartini."
Senada dengan Juragan, Ragil menyatakan: "Sebetulnya pas jamannya Kartini pun, udah banyak Kartini lainnya. Walaupun di scope yang lebih kecil. Tapi kalau maksudnya Real Kartini sebagai pendobrak atau pioneer, ya emang sih ibu kita yang satu itu emang top lah. Mungkin juga beliau punya kesempatan jadi pendobrak karena dia sebagai anak pejabat.
Kalau sekarang, menurut gue agak susah mau nyebut Real Kartini karena saking banyaknya pilihan. Kan udah banyak cewe berprofesi di bidang yang dulunya cuma buat cowo. Malah kalau dipikir-pikir, Kartini dulu jadi pahlawan karena bisa mendobrak tradisi yang merugikan cewe. Tapi di satu sisi, dia tetap seorang ibu.Nah, jaman sekarang banyak cewe yang juga merangkap jadi 'kepala rumah tangga'. Menurut gue, itu pantes juga dibilang sebagai Real Kartini."
Rahendz, "Cewek sekarang harus gimana? Yah susah membuat cewek sekarang kayak R. AJENG KARTINI pada masanya, meski secara ga langsung tetep ada yang seperti itu namun. sepertinya agak susah jika ditekankan agar bisa mayoritas. Yang kita harapkan bukan bagaimana mereka (para cewek) menjadi seorang Kartini yang hidup di era sekarang tetapi bagaimana cara mereka untuk tetap mempertahankan nilai-nilai perempuan yang telah diperjuangkan oleh R.AJENG KARTINI. Sedangkan masalah antara puas dan tidak itu hanya bagaimana cara membandingkannya, jika kita membandingkannya dengan cewek pada masa R.AJENG KARTINI saya tentu saja belum puas tetapi jika pembandingnya digolongkan ke norma/aturan agama dan bermasyarakat maka saya sudah cukup puas, yah meski ada cewek-cewek yang melanggar norma-norma susila dan asusila bahkan sampai perintah agama.”
Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika dan pahlawan perempuan lainnya memang memperjuangkan harkat perempuan agar mampu berperan seperti layaknya pria dalam berbagai bidang. Namun secara kodrat, ada beberapa hal yang mengharuskan wanita berperan penting dalam rumah tangga dan sebagai seorang ibu. Semua hal di dunia ini memang berada dalam dua kubu yang saling melengkapi dan saling mengisi. Jadi, saatnya peran semua baik wanita maupun pria dimaksimalkan agar dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi dunia. Terima Kasih. Pahlawan Perempuan Indonesia, Hidup Kartini!
*** (Salman Faris)
