Artikel:

Arham Kendari: Tanggung Jawab Menulis Buku Jauh Lebih Besar dari Menulis Blog

Nama Arham Kendari, cukup akrab dikenal bagi sebagian besar blogger terutama yang aktif di komunitas blogger Indosiar. Salah satu yang cukup fenomenal adalah ketika lelaki kelahiran Kendari, 19 Desember 1979 dan berprofesi sebagai kartunis dan desain grafis pada sebuah media di Kendari ini, adalah ketika dengan kocak dan iseng memajang foto modifikasi-nya bersama biduan Malaysia terkenal, Siti Nurhaliza di blognya. Salah satu media massa ibukota bahkan sempat memuat foto konyol tersebut.

Kini, Arham Kendari --yang bernama asli Arham Rasyid-- menggebrak dunia perbukuan Indonesia dengan meluncurkan blook berupa tulisan-tulisan dari blognya yang dibukukan dengan judul Jakarta Underkompor. Hasilnya? Sangat menakjubkan. Buku yang pertama kali diterbitkannyasecara independen dan kemudian dicetak ulang oleh PT Gramedia Pustaka Utama itu berhasil menjadi buku best seller di berbagai toko buku di Indonesia.

Lelaki lulusan jurusan arsitektur Unhalu Kendari Sulawesi Tenggara dan memiliki hobi membaca dan ngemil ini menyediakan waktunya untuk diwawancara oleh bz!, berikut petikannya:


Bisa Anda ceritakan pengalaman awal dan menarik saat pertama kali ngeblog? Apa motivasi Anda membuat blog?

tamu Awalnya iseng-iseng aja sih. Gak ada motivasi apa-apa. Mungkin sekadar gak mau dibilang gaptek aja, kali ya.

Orang bikin friendster, saya juga bikin account friendster. Orang bikin blog, ya saya juga ikutan bikin blog. Ya, yang kayak gitulah. Bahkan awalnya saya sama sekali gak tau apa yang mau diposting. Lama banget blog itu saya biarkan kosong. Karena hobi saya dari dulu ngedit-ngedit gambar, bikin semacam parodi, plesetan, hoax, atau apalah namanya pake photoshop sederhana, dan gambar itu sekian lama saya nikmati sendiri di folder PC, jadi saya pikir gak ada salahnya dipublish di blog. Eeh, gak taunya banyak yang tertarik. Jadinya keterusan deh. Dan biar gak monoton gambar melulu, saya mulai bikin cerita sedikit-sedikit trus kemudian dicari sinkronnya dengan gambar-gambar tersebut.


Mohon diceritakan latar belakang lahirnya buku Anda (Jakarta Under Kompor) dan
apa tantangan terbesar yang Anda hadapi saat pertama kali membukukan blog tersebut

Buku itu lahir dari comment pembaca. Begitu banyaknya dorongan dari pembaca blog saya agar cerita-cerita di blog itu dibukukan. Akhirnya awal tahun lalu saya beranikan diri jalan independen. Dengan sedikit modal pribadi, dibantu Dani Ardiansyah, seorang teman di multiply yang juga sudah pengalaman menelurkan beberapa buku indie, saya cetak buku jarak jauh. Saya tetap di Kendari, bukunya diedit dan dicetak teman saya itu di Jakarta. Dicetaknya gak banyak. Alakadarnya, karena memang niatnya hanya untuk teman-teman pembaca blog saya saja. Trus buku itu hanya dijual secara online. Alhamdulillah, responnya menggembirakan.

Cuma sebulan berjalan, saya tiba-tiba dapat email dari penerbit gramedia, nanya-nanya soal buku itu. Mereka sepertinya tertarik untuk mengambil alih penerbitan. Saya seperti kejatuhan durian runtuh. Mengingat ratusan atau mungkin ribuan penulis-penulis berpotensi di luar sana yang susah-payah menembus penerbit berkualitas, eeh saya yang hanya blogger iseng ini malah dapat tawaran.

Kalo berbicara soal tantangan,tantangan terbesar saya kalau mau jujur sebenarnya lebih banyak datangnya dari orang-orang daerah sendiri. Banyak yang memberi apresiasi positif, tapi tak sedikit kritikan pedas. Email maupun SMS kritikan yang saya terima intinya sama, mereka mempersoalkan content buku saya yang terlalu kejakartaan dan kurang mengeksplor sisi daerah saya. Saya katanya lebih mementingkan segi komersil.

Oke, saya terima kritikan itu, karena bagaimanapun saya tetap menjunjung tinggi azas relatif.

Penilaian subyektif saya, mereka yang beranggapan demikian sepertinya kesulitan membedakan yang mana idealisme dan yang mana egoisme kedaerahan. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakan saya tidak bangga dengan daerah sendiri. Andai boleh berdalih, ingin juga saya katakan, kalau gak bangga ngapain saya pakai nama pena arham_kendari? logikanya kan gitu. Hehehe.. (kok malah curhat?)


tamu Apa tanggapan Anda mengenai maraknya Blook (Blog yang dijadikan buku) yang cukup marak dan menerima respon positif dari masyarakat (terbukti sejumlah blook yg mencapai best seller seperti Gokil Mom atau Anak Kos Dodol)

Luar biasa!

Melihat respon masyarakat atas blook, jujur saya sangat bangga menjadi blogger. Eksistensi kita sepertinya sudah disejajarkan dengan penulis-penulis yang memang benar-benar penulis, penulis yang bukan sekadar berangkat dari keisengan blog-ngeblog.

Saya berharap wabah blook ini bukan sekadar trend sesaat, dan akan terus bermunculan blook-blook lain. Tak perlu takut menjadi follower. Saya pribadi akan mendukung 100% (nanggung kalo cuma 68%). Hehehe..


Apakah ada perbedaan mencolok yang Anda lihat dari blook Anda dengan blook-nya Raditya Dika yang beredar 3 tahun silam dan mencapai sukses luar biasa itu?

Kalo dari segi genre, mungkin sama. Komedi remaja.
Dan saya akui si kambing ini memang salah satu inspirator saya.
Tapi bukan berarti nyontek loh ya?

Dengan sedikit membaca saja, saya jamin sudah keliatan banget kok perbedaan-perbedaan. Kalo boleh saya menilai sendiri, buku saya lebih mengangkat isu sosial menengah ke bawah. Mungkin itu perbedaan yang paling mencolok.


Apa saran Anda, jika saya, misalnya ingin membukukan blog saya (dari
perspektif Anda sebagai penulis blog)?

Yang pertama, mungkin ada baiknya kita mengenyampingkan ego, menekan opini-opini yang terlalu pribadi, mengingat tanggung jawab menulis buku jauh lebih besar daripada blog, baik dari segi hukum maupun moral.

Dan yang kedua adalah sedapat mungkin down to earth. Kalo saya pribadi walaupun buku saya bergenre komedi, saya gak mau mengatakan buku saya ini lucu, karena lucu itu relatif. Beresiko kalo menjudge karya sendiri. Jadi saya biarkan orang lain yang menilai.

Kalopun ada yang menilai gak lucu ataupun garing, toh seenggaknya saya lepas dari tanggung jawab moral, karena di buku saya tag-nya bukan bacaan lucu, tapi sebuah memoar garing. Hehehe...


*** (amril)


Posted on August 6, 2008 4:00 AM |

Komentar (7)

AmachSmil:

Salam kenal..:-o
Jd pengen mlai bkn n ngisi blog lg.. Sapa tw bsa dpet inspirasi bkin buku atopun blook..

Ocha:

Jakarta underkompornya ok bgt...jd ngefans ama penulisnya..hehehehe
jd pengen nge-blog jg nich....^-^

nieta:

salam kenal..ych.??
Wah...skses ych Bang Arham,ats bukunya.oh ych kalo boleh tau di kendari tinggalnya di mana?

gRy:

Hidup Bang Arham...!!!
Hidup Bang Arham...!!!
Hidup Bang Arham...!!!

*tereak2x kaya ibu2x lagi demo

inez:

ughhhh....bangga deh bs kenal dan dekat dengan abang yang satu ini!!!saya banyak belajar dari beliau ^_^

erny:

ya ampun . . . .
blognya mengharukan bangettttt
hikz... hikz....
aq kasih jempol deh buat bang arham

Selamat........
telah terpilih sebagai ketua BLOGx Kendari.
HIDUP ARHAM

Tulis komentar anda

(Komentar akan melalui proses moderasi.)



 Lainnya: