Catatan Hati di Setiap Sujudku

Ada kesejukan yang menyergap relung kalbu saya saat melihat cover depan buku Catatan Hati Di Setiap Sujudku (CHDSS), buku dengan ilustrasi sebuah jendela dengan pemandangan mesjid ini seolah mengajak para pembacanya untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Jujur, sebenarnya selama ini saya kurang begitu suka membaca kumpulan cerita yang mengatasnamakan cerita Islami. Soalnya kebanyakan cerita-cerita itu lebih ke menggurui dibanding mengayomi. Tapi saya mencoba untuk membuka lebar mata hati saya dan menutup sementara sang logika saat mulai membaca CHDSS.
Ada beberapa kisah yang begitu menyentuh hati saya dari CHDSS yang terdiri atas sekitar lebih dari 13 cerita dan ditulis oleh 9 orang penulis ini.
Yang pertama adalah cerita Catatan Hati Di Setiap Sujudku tulisannya Mbak Asma Nadia. Mbak Asma menuliskan kenangannya saat Adam, putra keduanya harus dirawat di RS karena kejang. Betapa perjuangan orangtua yang mencoba tetap ikhlas akan ketentuan Allah tapi di sisi lain juga tetap berusaha berikhtiar dengan berdoa, berdoa dan berdoa. 22 tahun yang lalu saya adalah Adam yang harus dioperasi jantung karena ada kelainan di jantung saya.
Saya mencoba membayangkan betapa kacau balaunya hati sang mama dan papa saya saat itu. Ya Allah, mau bagaimana pun saya mencoba membayangkannya..rasanya sangat sulit, apalagi harus menjalaninya. Alhamdulillah seperti Mbak Asma, kedua orang tua saya juga terus berdoa untuk kesembuhan saya. Terimakasih Ya Rabb, saya masih bisa bernafas sampai saat ini.
Cerita kedua yang begitu menusuk kalbu saya adalah ceritanya Nunik dengan judul Ibu. Sungguh saya sangat bisa merasakan hancurnya hati Nunik saat sang ibu didiagnosa mengidap kanker. Airmata juga tak henti-hentinya bersimbah di pelupuk mata ini saat membaca perjuangan Nunik dan keluarga.
Sama seperti Nunik, saya dulu juga sempat bertanya "Dosa apakah saya sebagai anak, sehingga Allah memberikan penyakit yang maha besar ini kepada sang mama?" Melalui malam-malam panjang penuh dengan doa dan airmata saya mencoba ikhlas untuk menghadapi segala kehendak Sang Khalik. Yah, ikhlas adalah sesuatu yang sulit dilakukan manusia. Tetapi Nunik melalui cerita Ibu mengajarkan kepada kita kebesaran ikhlas itu sendiri.
Nah, melalu tulisan Nasanti: Bukan karena Allah tak sayang, saya jadi merasa tersindir dan jadi senyum-senyum sendiri. Soalnya Nasanti cerita tentang doanya yang minta tinggi itu siih sama Allah :)) Hihihii, rasanya waktu kecil saya juga pernah deh minta hal yang simple tapi aneh banget di doa saya. Walaupun cerita ini menggelitik, ada sisi pelajarannya juga lho, yaitu kalau Allah belum mengabulkan doa umatnya.. bukan berarti Allah gak sayang.
Walaupun cuman 3 cerita yang saya kulik di sini, bukan berarti cerita lain tidak bermakna apa-apa. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari buku ini.
*** (Yaya Marzuki)
