Cukup, Ini yang Terakhir!
--- Sebuah Kisah Sejati ---
Beberapa bulan lalu saya berkonsultasi dengan dokter perusahaan. Saya curiga ada yang tidak beres dalam tubuh saya. Belakangan saya gampang terhuyung, lelah dan ngantuk. Lalu, yang sedikit mencemaskan, hari-hari ini saya makin sering merasakan nyeri di perut.
Oleh Dr. Firman Boerma, saya malah diminta untuk general check-up. Jadilah Senin lalu (10/3) saya ke laboratorium rumah sakit MMC. Hasilnya, secara umum baik. Alat-alat vital seperti jantung, paru-paru, ginjal, oke-oke aja. Demikian juga pemeriksaan hematologi, kimia darah, dan urinalisa. Yang sedikit bermasalah (dan di luar dugaan) justru kolesterol yang lumayan tinggi. Padahal, tekanan darah saya rendah (100/70).
"Itu yang bikin pusing!" kata dokter Firman.
Hm, biangnya pasti seafood. Rasanya, dalam sepekan, saya jarang tidak mengkonsumsi satu di antara menu favorit saya: kepiting, udang, atau cumi!
Yang mengganggu adalah hasil pemeriksaan USG. Entah kenapa, sejak awal saya begitu yakin ada 'benda asing' di perut saya. Dan benar. Ditemukan tumor berdiameter kurang lebih 50 mm dalam rahim saya. Dokter menyebutnya 'myoma uteri'.
"Harus diangkat, bu!" saran dokter kandungan saya di RSB YPK Menteng Jakarta, Dr. dr. Soegiharto Soebiyanto, SpOG.
Saya manut. Artinya, ini bakal jadi tindakan bedah ke-3 saya di RSB YPK. Dan menjadi operasi ke-6 dalam 'curriculum vitae' saya. Mungkin, kalau orang MURI mendengarnya, bisa tuh memecahkan rekor. Hehe.
Dan, entah kenapa juga, penyakit saya selalu gak jauh-jauh dari urusan spesies 'benda asing' di tubuh. Pertama kali mengenal kamar bedah saat masih berusia 9 tahun: operasi amandel. Ringan sih, kata dokter. Tapi, konon, cerita ibu, operasi itu nyaris merenggut nyawa saya, karena keterlambatan perawatan pasca bedah- kelalaian paramedis. Lalu, pada saat berusia 18 tahun, saya kembali masuk kamar operasi karena sebuah tumor bersarang di bagian atas dada sebelah kiri. Tahun 2000, saya divonis endometriosis stadium akut, dan kembali masuk kamar bedah menjalani laparaskopi pada Februari. Tiga tahun kemudian, 2003, sebuah tumor bersarang di pangkal paha, juga membutuhkan tindakan bedah. November 2005, anak semata wayang saya, Sakti, lahir melalui operasi caesar. Dan Insya Allah, 7 April mendatang, saya akan kembali menjalani tindakan untuk urusan myoma uteri itu. Wah.., gak main-main deh.
Ibu saya khawatir bukan main. Saya bisa membacanya, meski beliau tidak berkomentar banyak. Saya sendiri, alhamdulillah, selalu diberi kekuatan dari Yang Di Atas. Saya jarang cemas menghadapi kamar bedah. Karena saya begitu percaya, semua sudah diatur dari Allah. Saya malah bersyukur, karena hingga detik ini masih diberi kesempatan untuk hidup dan menikmati banyak hal.
Penyakit Orang Kota?
Dari sekian banyak jenis 'benda aneh' yang berdiam di tubuh saya, endometriosis adalah yang paling meninggalkan kesan. Mungkin karena saya membutuhkan waktu dan kesabaran yang panjang untuk menjalani terapi. Pertama kali mengetahui mengidap penyakit ini, Februari 2000. Saat itu juga langsung mendapatkan tindakan laparaskopi. Lima tahun kemudian - setelah melewati berbagai macam treatment, Februari 2005, saya dinyatakan positif hamil. Sebuah mujizat tak berbanding, karena dari sejumlah literatur dan informasi dokter, probabilitas saya untuk memiliki anak sebetulnya sangat kecil.
Endometriosis adalah penyakit yang hanya diderita perempuan. Gejalanya ditandai dengan nyeri hebat pada saat menstruasi. Menurut MedicaStore sebagaimana dikutip Pusat Data Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (www.pdpersi.co.id), endometriosis adalah penyakit yang dipicu pertumbuhan jaringan endometrium di luar rongga rahim. Endometrium adalah jaringan yang membatasi bagian dalam rahim. Dalam siklus menstruasi, ketebalan endometrium akan bertambah sebagai persiapan terjadinya kehamilan. Bila kehamilan tidak terjadi, maka lapisan ini akan terlepas dan dikeluarkan sebagai menstruasi.
Penyebab endometriosis secara pasti belum diketahui, tapi ada beberapa teori yang diajukan selama ini, antara lain:
+ Menstruasi retrograd, di mana sebagian aliran darah menstruasi dari rahim keluar ke rongga perut melalui tuba;
+ Gangguan sistem kekebalan yang memungkinkan sel-sel endometrium melekat dan berkembang;
+ Kelainan genetis ;
+ Jaringan endometrium menyebar melalui sistem kelenjar getah bening dan aliran darah (dalam kasus saya, jaringan ini menyebar sampai ke usus segala);
+ Faktor lingkungan, misalnya paparan terhadap dioxin.
Beberapa dokter yang pernah saya tanyai menyatakan bahwa penyakit ini jarang diderita oleh perempuan yang tinggal di pedusunan. Mungkin, karena lingkungan di desa relatif tidak terpapar dioxin. Dan konon pula, selain menimpa mereka yang berdiam di wilayah perkotaan, endometriosis demen bersarang di tubuh perempuan yang berasal dari keluarga berkecukupan - berkait erat dengan lifestyle. Wah...
Endometriosis, sejatinya, dapat terjadi kapan saja sepanjang usia reproduksi perempuan dan menjadi masalah besar karena bisa mengakibatkan terjadinya infertilitas.
Histerektomi atau Miomektomi?
Seharusnya saya menjalani operasi pengangkatan myoma uteri dalam pekan-pekan ini. Tapi karena alasan tugas (saya masih harus berdinas ke luar Jakarta), saya meminta penangguhan hingga 7 April.
Myoma uteri, penyakit apaan sih? Ini adalah tumor kandungan (uterus) yang terdiri atas otot polos dan jaringan ikat (myoma). Pada beberapa kepustakaan, myoma uteri juga sering disebut dengan Leiomioma, Fibromioma atau Fibroid. Penyakit ini dipicu oleh hormon estrogen yang mempengaruhi timbulnya myoma uteri. Pada jaringan myoma, jumlah reseptor estrogen lebih tinggi dibandingkan jaringan otot kandungan (miometrium) sekitarnya.
Gejala dan tanda klinis yang umum muncul pada pasien penderita myoma, menurut dokter, sangat terggantung dari lokasi myoma, ukuran serta perubahan perubahan yang terjadi pada organ sekitarnya. Keluhan yang sering diderita antara lain: rasa nyeri (kadang-kadang sampai tak tertahankan), perdarahan abnormal, dan kalau miomanya menekan kandung kemih akan terjadi gangguan kencing.
Seberapa 'menyeramkan'? Hehe, moga-moga sih gak menyeramkan, karena masih tergolong dalam label penyakit 'tumor jinak'. Tapi kendati jinak, tumor ini kerap bertumbuh keluar dari mulut rahim. Ia juga dapat tumbuh lebih dari satu di dalam rahim, teraba kenyal, bentuknya bulat dan berbenjol-benjol sesuai ukuran tumor. Ukuran dan beratnya bervariasi, mulai dari beberapa gram, namun dapat juga mencapai 3 kg atau lebih. Pada penderita yang sedang hamil, myoma uteri bisa menyebabkan keguguran spontan.
Nanganinya gimana dong? Apa selalu dengan tindakan bedah? Dari tulisan yang pernah saya baca di www.republika.co.id, jika tumor berukuran kecil dan tidak membesar, cukup dilakukan pemeriksaan rutin setiap 3-6 bulan sekali, pengecilan tumor dilakukan dengan obat-obatan GnRH analog. Myoma memiliki lapisan kapsul yang tegas, dapat dipisahkan/dikupas dari massa tumornya.
Operasi pembedahan dilakukan jika tumor berukuran besar. Dokter dari RS MMC yang melakukan USG menyarankan ke saya agar sekaligus dengan cara histerektomi (pengangkatan kandungan) jika tidak ada rencana hamil lagi. Tapi Dr. Soegi di RSB YPK bilang, masih bisa diusahakan dengan cara miomektomi (mengangkat miomnya saja). Karena itu jangan ditunda, karena jika massa tumor membesar atau luas, kerap tidak memungkinkan dilakukan pengangkatan massa tumor saja, hingga harus dilakukan histerektomi.
Waww, bikin saya rada sesak nafas nih. Tapi, ya sudahlah, bismillah aja. Tuhan selalu memberikan yang terbaik kok. Saya hanya berharap, cukup, ini yang terakhir. Karena itu, tolong dido’aian ya, semoga semuanya berlangsung baik-baik saja. Amin.
Artikel diambil dari blog pribadi Ryana Mustamin, atas ijin dari yang bersangkutan.

Komentar (1)
Assalamu'alaikum
Saya Evi. Saya juga minggu depan mau bedah untuk mengangkat endometriosis yang ukurannya sudah diatas 5 cm. Hmmmm...ini pembedahan perut yang pertama dan pastinya saya berharap ini yang terakhir. Kalaupun hamil saya ingin yang normal saja. Semoga ya. Mba, kalo aku baca cerita mba diatas. Sepertinya endometriosis yang Mba alami masih dalam ukuran yang kecil ya sehingga melewati proses terapi hormon atau semacamnya ya. Tanpa adanya pengangkatan endometriosis itu sendiri. Apakah benar demikian mba? Saya disarankan oleh dokter kandungan untuk segera diangkat saja endometriosisnya karena ukurannya sudah membesar diatas 5cm.Ketika saya tanya apakah saya bisa langsung merencanakan kehamilan sesudah pembedahan, karena saya baru saja menikah januari tadi heheheheh jadi pengen segera punya momongan. Yah ini salah satu usaha. Dan dokter bilang saya bisa langsung merencanakan kehamilan. Apakah mba dulu tidak disarankan untuk diangkat saja endometriosisnya tanpa harus melewati terapi yang akhirnya baru sekitar 5 tahunan ya mba baru diberi momongan? Mohon sharing informasinya ya Mba, soalnya aku nggak ngerti banget dan hati2 sebelum memutuskan segera operasi apa tidak.
Terimakasih.
@ February 21, 2009 04:53